ArtikelKEISLAMANOPINI

Ini Tata Cara Salat Gerhana Matahari dan Hikmah-hikmah di Dalamnya

Tuban, PCNU Online
Gerhana matahari bakal menyapa Indonesia pada Kamis (20/4/2023). Fenomena alam hilangnya sinar matahari secara keseluruhan atau sebagian saja di waktu siang ini prediksi berlangsung pagi hingga siang, antara pukul 09.30-12.22 WIB.

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Fiqhu Al-Islami wa Adillatuhu karangan Syaikh Wahbah Azzuhaili, gerhana matahari ini disebabkan terhalangnya sinar matahari oleh bulan yang berada di antara bumi dan matahari.

Bagi umat muslim, saat fenomena langit ini berlangsung, disunahkan melaksanakan salat gerhana matahari, baik sendiri maupun secara berjamaah.

Dalam madzhab Syafi’i, salat gerhana matahari pertama kali disyariatkan pada tahun kedua Hijriyah. Sedangkan salat gerhana bulan pada tahun kelima Hijriyah. Sebagaimana dituliskan dalam kitab Al-Fiqhu Al-Manhaji karangan Syaikh Musthafa al-Khin.

Menurut Imam Al-‘Asymawi dalam kitab Hasyiyatul Bujairomi alal Khotib karangan Syaikh Sulaiman bin Muhammad al-Bujairomi, pada masa Rasulullah SAW, gerhana bulan terjadi dua kali, sedangkan gerhana matahari hanya terjadi satu kali.

Dari segi hukum, salat gerhana matahari hukumnya sunnah muakkadah. Bisa dilakukan berjamaah ataupun sendiri. Bila tidak dilakukan hukumnya makruh. Dan disunahkan pula dilakukan berjama’ah di masjid—sebagaimana dalam kitab At-Taqrirot As-Sadidah karangan Habib Hasan bin Ahmad al-Kaf.

Salat gerhana matahari dapat dilakukan mulai awal perubahan matahari sampai sinarnya terang kembali, atau sampai terbenamnya matahari meskipun masih dalam keadaan gerhana. Artinya, jika matahari sudah kembali normal, atau masih gerhana namun sudah terbenam, maka waktu disunahkannya salat gerhana sudah tidak ada dan tidak berlaku qodlo, sebagaimana ditulis dalam kitab At-Taqrirot As-Sadidah, karangan Habib Hasan bin Ahmad al-Kaf.

Secara syariat, teknik salat gerhana matahari dilakukan dua rakaat. Setiap rakaatnya terdapat dua kali berdiri dan masing-masing membaca Al-Fatihah dan surat sesuai rincian sebagai berikut:

  1. Melafalkan niat terlebih dahulu sebagai berikut:
    أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا\إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى
  2. Niat dalam hati diiringi takbiratul ihram.
  3. Mengucap takbir ketika takbiratul ihram sambil niat di dalam hati.
  4. Membaca doa iftitah.
  5. Baca ta‘awudz dan surah Al-Fatihah.
  6. Baca salah satu surat pendek Alquran dengan sir (perlahan).
  7. Rukuk dengan membaca tasbi
  8. I’tidal dengan menaruh kedua tangan kembali di bawah dada.
  9. Baca ta‘awudz dan Surat Al-Fatihah.
  10. Baca salah satu surat pendek Alquran dengan sir (perlahan).
  11. Rukuk dengan membaca tasbih
  12. I’tidal dengan membaca bacaan I’tidal.
  13. Sujud pertama diikuti membaca tasbih.
  14. Duduk di antara dua sujud.
  15. Sujud kedua sembari membaca tasbih.
  16. Duduk istirahat atau duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rakaat kedua.
  17. Bangkit dari duduk, lalu mengerjakan rakaat kedua dengan gerakan yang sama dengan rakaat pertama. Durasi pengerjaan rakaat kedua lebih pendek daripada pengerjaan rakaat pertama.
  18. Setelah sujud kedua pada rakaat kedua, duduk tasyahud untuk membaca tasyahud akhir.
  19. Salam.

Adapun di antara kesunahan dalam salat gerhana matahari ini, yakni disunahkan mandi sebelum melaksanakan salat, tanpa berhias, dengan niat sebagai berikut: نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِصَلَاةِ الْكُسُوْفِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى (Nawaitul ghusla lishalâtil kusûfi sunnatan lillâhi ta’âlâ).

Kemudian, disunnahkan untuk tidak mengeraskan bacaan-bacaannya dalam salat. Sebab, salat gerhana matahari termasuk bagian salat yang dikerjakan di siang hari (nahariyah) sebagaimana salat Dzuhur/Ashar.

Selanjutnya, jika dilakukan secara berjamaah, maka disunnahkan bagi imam untuk berkhutbah, sebagaimana khutbah salat Jumat. Namun, dalam hal ini hendaklah bagi khatib memotivasi para jamaah terhadap kebaikan, berupa taubat, sedekah, dan kebaikan lainnya, serta mengajak untuk meninggalkan kemaksiatan dan segala kejelekan lainnya. Anjuran khutbah ini tidak berlaku bagi orang yang melakukan shalat gerhana secara sendiri. Dan berikutnya disunnahkan untuk tidak dilakukan secara berjamaah apabila terjadi gempa, petir yang menakutkan, dan angin kencang, sebagaimana dijelaskan dalam kitab At-Taqrirat As-Sadidah fil Masailil Mufidah karya Habib Hasan bin Ahmad al-Kaf.

Sementara itu, di antara hikmahnya salat gerhana matahari, yakni mengingatkan para penyembah matahari ataupun bulan bahwa kedua benda langit itu adalah ciptaan Allah taala tidak memiliki daya dan kekuatan apa pun, serta tidak bisa mendatangkan kebaikan dan keburukan, dan tidak pula memberikan manfaat dan mudarat.

Hikmah lain, mematahkan mitos jahiliyah bahwa peristiwa gerhana berkaitan erat dengan mati atau hidupnya seseorang; menanamkan rasa takut kepada Allah agar seorang hamba meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaannya kepada Allah dengan cara salat; dan agar terhindar dari bala’ dan berharap matahari bersinar seperti semula (belum terjadi kiamat kubro).

Penulis: K. Muhammad Arifuddin (Katib PCNU Tuban)
Editor: Ahmad Atho’illah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button