Tuban, PCNU Online
Perkembangan teknologi yang begitu cepat membuat pola pendidikan anak Generasi Alpha memiliki tantangan tersendiri. Anak-anak yang lahir mulai tahun 2010 tumbuh berdampingan dengan dunia digital sejak usia dini, sehingga membutuhkan pendekatan pendidikan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Karena itu, keterlibatan sekolah dan orang tua menjadi bagian penting dalam membentuk karakter anak.
Sebagai bentuk penguatan kerja sama tersebut, TK Muslimat NU 04 Bangilan Tuban mengadakan kegiatan parenting bertema “Kiat Sukses Mendidik Anak Gen Alpha: Sinergi Antar Sekolah, Orang Tua dan Anak,” Sabtu (9/06/2026).
Kegiatan yang berlangsung di halaman TK Muslimat NU 04 itu berjalan hangat dan penuh antusiasme. Hadir sebagai narasumber yakni Dr Farida Isroani, S.Pd.I., M.Pd., yang dikenal sebagai dosen, praktisi, peneliti, penulis buku, sekaligus pemerhati anak, gender, dan inklusi. Acara tersebut diikuti sekitar 200 wali murid bersama seluruh tenaga pendidik.
Selaku pengurus dan penasehat, Fatimatun Zahroh, S.Pd., mengapresiasi dukungan para wali murid yang hadir dan terlibat dalam kegiatan parenting tersebut. Menurutnya, komunikasi yang baik antara orang tua dan anak harus terus dibangun demi menciptakan generasi yang berkualitas di masa mendatang.
“Terimakasih kehadiran para wali murid dalam bersinergi mendukung suksesnya persamaan visi antar sekolah dan orang tua. Tanpa adanya sinergi, komunikasi dan kolaborasi maka akan sulit mendidik anak-anak. Dengan adanya parenting ini semoga menjadi sarana komunikasi yang baik antar pihak demi hasil yang baik untuk anak-anak”, ujarnya.
Sambutan berikutnya disampaikan Kepala TK Muslimat NU 04 Bangilan, Ibu Mamik Ismiyati, S.Pd. Ia menilai kegiatan parenting menjadi bagian penting dalam membangun kolaborasi pendidikan antara sekolah, orang tua, dan anak.
“Kegiatan parenting dirasa penting karena bentuk kolaborasi antar sekolah, anak dan orang tua sebagai salah satu upaya kiat sukses mendidik karakter anak”, ujarnya.

Dalam pemaparannya, Dr Farida Isroani menjelaskan pentingnya peran sekolah yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Menurutnya, setiap anak memiliki potensi dan karakter yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan belajar yang tepat.
“Taksonomi Bloom menjelaskan bahwa ada tiga ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Jadi setiap anak punya kelebihan dan keistimewaan yang berbeda. Gen Alpha butuh ruang belajar yang fleksibel, berbasis proyek, dan melek digital. Tapi teknologi saja tidak cukup. Guru dan orang tua duduk bersama tiap sekian bulan sekali untuk bahas perkembangan anak, bukan cuma nilai rapor. Program ini bertujuan untuk mengetahui metode belajar, kendala, dan kondisi anak selama di sekolah” ujarnya.
Selain sekolah, peran orang tua juga dinilai sangat menentukan dalam mendampingi anak di era digital. Farida menekankan bahwa orang tua sebaiknya menjadi teladan dalam penggunaan gadget, bukan sekadar melarang anak.
“Kuncinya adalah jadi teladan. Kalau orang tua mau anak tidak main HP saat makan, kita juga harus begitu. Buat aturan screen time bersama anak, bukan untuk anak. Praktikkan teknik “20-20-2”: tiap 20 menit menatap layar, istirahat 20 detik melihat benda 2 meter jauhnya, dan 2 jam aktivitas fisik tanpa gadget per hari” ujar Farida.
Ia juga menyoroti pentingnya melibatkan anak dalam pengambilan keputusan agar mereka merasa dihargai dan lebih mudah diarahkan sesuai minat dan bakatnya.
“Anak akan semakin menolak jika dipaksa melakukan kegiatan yang tidak diminati, sebagai orang tua sebaiknya mengenali minat dan bakat anak sejak dini. Dampingi dan arahkan anak-anak berkegiatan positif”, ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Farida turut mengenalkan metode pola asuh 7×3, yakni meluangkan waktu bersama anak melalui tujuh kebiasaan positif dalam tiga momentum penting, yaitu tujuh menit setelah bangun tidur, tujuh menit setelah bekerja atau berkegiatan, dan tujuh menit sebelum tidur.
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Salah satu wali murid, Ikmal dari Kelompok A, mengajukan pertanyaan terkait pola asuh anak yang dinilai semakin sulit diarahkan ketika terlalu lembut, namun juga mudah memberontak saat ditegasi.
“Bagaimana cara mendidik anak jika orang tua lembut maka anak malah ngelunjak, jadi harus ditegasi kadang sampai harus marah. Jadi kadang pola asuhnya masih seperti zaman dulu. Maka solusinya bagaimana?,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Farida menegaskan bahwa pola asuh terhadap Generasi Alpha membutuhkan kerja sama yang seimbang antara sekolah, orang tua, dan anak.
“Sinergi tiga pihak sebenarnya menutup celah pola asuh yang timpang. Sekolah jadi fasilitator, orang tua jadi teladan, dan anak jadi subjek aktif, bukan objek didik. Kita tidak bisa mendidik Gen Alpha dengan cara lama. Semakin anak dikeras biasanya akan semakin tantrum. Maybe, Kolaborasi dan sinergi antar guru, orangtua dan anak solusinya,” ujar Farida.
Kegiatan parenting yang berlangsung kurang lebih empat jam tersebut ditutup dengan doa bersama dan sesi foto bersama seluruh peserta.





