Tuban, PCNU Online
Salah satu mahasiswa Program Studi Manajemen Dakwah (MD) kampus Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban, Moh. Alfin Nur Taufiq mendapat kesempatan untuk belajar bersama dalam sebuah kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan oleh Yayasan Kulit Pohon dengan tema Identifikasi 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) & Cagar Budaya Lereng Selatan: Peradaban Kuno Desa Badean Jember pada Senin, (27/06/2026).
Diketahui, Yayasan Kulit Pohon merupakan komunitas yang mengampu terkait mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember.
Dalam kegiatan tersebut, saudara Alfin dipercaya untuk mengemban amanah sebagai moderator. Bagi dirinya, pengalaman itu bukan sekadar memandu jalannya diskusi, melainkan juga ruang belajar untuk menyerap berbagai pandangan mengenai sejarah dan kebudayaan.
FGD ini dihadiri sekitar 50 peserta dari berbagai latar belakang, khususnya pegiat sejarah dan pemerhati kebudayaan. Suasana forum semakin hidup dengan kehadiran saudara Achmadana Syachrizal Muziburrochman, selaku ketua pelaksana, serta yang turut memberikan dukungan terhadap jalannya kegiatan.
Dalam sambutannya, Achmadana menegaskan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bagian dari upaya memahami sejarah peradaban.
“Dalam hal ini, menjaga objek kebudayaan sangatlah penting. Sebab, dari sini kita bisa tahu bagaimana sejarah peradaban berkembang,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. H. Khoirul Faizin, Wakil Rektor III UIN KHAS Jember turut menyampaikan apresiasinya terhadap semangat kemandirian yang dibangun oleh Yayasan Kulit Pohon. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa ruang-ruang intelektual dapat tumbuh melalui gerakan yang mandiri dan penuh kesadaran.
“Yayasan Kulit Pohon ini sebagai bentuk kemandirian. Sebab, bahkan menggelar event seperti ini pun tanpa meminta uang sepeser pun dari pihak kampus,” ungkapnya.
Di tengah forum tersebut, Alfin mengaku merasa kagum terhadap semangat belajar yang dimiliki para peserta. Sebagai mahasiswa dari kampus IAINU Tuban, ia melihat bagaimana kekompakan dan rasa haus ilmu pengetahuan yang dimiliki kawan-kawan di Jember menjadi energi tersendiri dalam diskusi itu.
“Kebudayaan tidak akan tetap hidup hanya karena diwariskan, tetapi karena ada orang-orang yang terus mendiskusikan, menjaga, dan memperjuangkannya bersama,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu pula, Alfin menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menghadirkan ruang belajar yang hangat dan penuh makna.





