Tuban, PCNU Online
Sebuah karya yang mempertemukan kekayaan pitutur Jawa dengan kedalaman nilai-nilai Islam hadir melalui buku Kabut Hitam Menembus Sutra Pusaka Nusantara (Lakon Wahyu Makutharama) karya Kholidul Ihsan Thoirani, dengan Pendedah Dalang Ki Buntas Pradata. Kegiatan tersebut terlaksana di lingkungan bazar buku Perpustakaan Daerah Kabupaten Tuban pada, Kamis (10/09/26).
Buku tersebut tidak sekadar menghadirkan cerita pewayangan sebagai hiburan, tetapi mengajak pembaca memasuki ruang perenungan tentang manusia, kepemimpinan, pengabdian, dan pergulatan batin ketika berhadapan dengan godaan kekuasaan.
Melalui buku tersebut, Ihsan menuturkan, lakon Wahyu Makutharama, penulis berusaha menyingkap kembali keluhuran filosofi dan pitutur Jawa dalam tradisi masyarakat Nusantara.
“Saya mencoba untuk mengangkat nilai-nilai tersebut kemudian dipertemukan dengan perspektif Islam. Sehingga menghasilkan pembacaan yang tidak berhenti pada simbol-simbol pewayangan, namun bergerak menuju hakikat manusia dan tanggung jawab moralnya,” tandas Ihsan.
Ia juga menuturkan, kisah dalam buku ini dapat dibaca sebagai perjalanan batin. Manusia tidak hanya berhadapan dengan persoalan lahiriah, tetapi juga dengan pertarungan yang jauh lebih dalam: antara nurani dan nafsu, pengabdian dan ambisi, amanah dan keserakahan kekuasaan.
“Jika sembah raga menitikberatkan pembersihan dengan air, namun sembah kalbu menahan hawa nafsu dan penyucian batin. Sucine tanpa banyu, amung nyunyuda hardaning kalbu. Menurut Imam Al-Ghazali, tharah memiliki empat tingkatan, kesatu membersihkan hadast dan najis, kedua menjaga tubuh dari perbuatan dosa, ketiga menyucikan hati dari perbuatan tercela, dan keempat membersihkan hati dari selain Allah,” tegasnya.
فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ
Artinya: “Apabila amanah sudah hilang, maka tunggulah terjadinya kiamat”. Orang itu (Arab Badui) bertanya, “Bagaimana hilangnya amanat itu?” Nabi saw menjawab, “Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat.” (HR. Al-Bukhari).
Secara gamblang, makna hadis di atas mempertegas ketika peran-peran penting di tengah masyarakat diberikan pada sosok yang tidak memiliki kompetensi dan keahlian dalam memimpin, mengelola dan mengurus maka kehancuran pun akan datang.
Sementara itu, Ki Buntas Pradata menambahkan, pitutur Jawa yang terkandung dalam kisah tersebut menjadi semacam cermin kebudayaan. Ia mengajarkan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kekuatan, kedudukan, dan pengaruh.
“Seorang pemimpin niku kedah mawas diri ojo dumeh, lan junjung tinggi tepo sliro. Nggeh meniko, memahami kepentingan rakyat, serta menempatkan kekuasaan sebagai sarana pengabdian,” jelas Mas Dalang sapaan akrabnya.
Lebih lanjut ia menyampaikan, ini adalah bagian dari akulturasi budaya, titik kedalaman Islam dalam buku tersebut menemukan relevansinya. Nilai kepemimpinan diamalkan bukan untuk mengatur orang lain, melainkan sebagai kesanggupan menaklukkan ego diri sendiri.
“Sebab, pertarungan terbesar seorang manusia bukan selalu melawan orang lain. Yakni dirinya sendiri. Ketika nafsu kekuasaan mulai mengalahkan suara hati, maka yang muncul sifat, adigang adigung adiguna. Sejatinya orang hidup itu, ora kena ngrusak lan gawe serik,” tambahanya.
Buku Kabut Hitam Menembus Sutra Pusaka Nusantara karena itu dapat dibaca sebagai refleksi kebudayaan sekaligus refleksi spiritual. Wayang dan pitutur Jawa menjadi pintu masuk untuk memahami pesan-pesan universal mengenai kehidupan, sementara nilai Islam memberikan kedalaman etik dan spiritual terhadap pesan tersebut.
Kholidul Ihsan Thoirani melalui karya ini seolah ingin mengingatkan bahwa warisan kebudayaan Nusantara bukanlah benda mati yang hanya disimpan sebagai peninggalan masa lalu. Di dalamnya terdapat nilai, kebijaksanaan, dan pandangan hidup.
Dalam forum tersebut, salah satu peserta bedah buku Ahmad Atho’illah, seorang kolomnis Jawa Pos Radar Tuban, menyampaikan keprihataninannya dalam konteks kondisi generasi bangsa yang semakin jauh dari nilai-nilia luhur nenek moyang.
“Saya ingin bertanya bahwa bagaimana tradisi Jawa tetap hidup di tengah perubahan zaman, bagaimana pitutur leluhur dapat berdialog dengan nilai-nilai Islam, dan bagaimana warisan Nusantara dapat menjadi sumber etika untuk di era globalisasi yang semakin cepat,” tegas Atho’.
Ia menambahkan, di tengah zaman ketika kekuasaan sering kali dipahami sebagai privilese, buku ini menawarkan perspektif berbeda: kekuasaan adalah amanah, kepemimpinan adalah pengabdian, dan kemenangan sejati adalah ketika manusia mampu mengalahkan nafsu dalam dirinya sendiri.
“Nah dalam konteks hari ini, kita lihat bahwa pemimpin hari ini tidak lagi menjadi pengayom, melainkan membodohi rakyat. Kita ambil contoh, program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi korupsi, anak-anak banyak keracunan. Kemudian, Koperasi Desa Merah Putih, koperasi tapi dikontrol oleh pusat. Seolah ini hanya tipu daya kuasa. Bukan untuk kesejahteraan rakyat. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa, pemimpin kita tidak berhasil belajar pada nenek moyang, dan nilai-nilai luhur pitutur jawa,” pungkasnya.





