Tuban, PCNU Online
Memasuki gerbang abad kedua perjalanannya, Nahdlatul Ulama (NU) tengah menghadapi ujian eksistensial yang melampaui urusan tradisi dan ritus keagamaan. Ujian tersebut terletak pada kemampuan organisasi ini mengelola kemandirian intelektual dan kebangkitan teknokratis warganya. Di Kabupaten Tuban, “Bumi Wali”, denyut transformasi itu beresonansi kuat melalui perubahan bentuk Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban menjadi Universitas Nahdlatul Ulama Makhdum Ibrahim (UNUMA) Tuban. Penyerahan SK Alih Bentuk oleh Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI beberapa hari yang lalu bukan sekadar seremoni birokrasi atau urusan ganti papan nama. Dalam perspektif manajemen transformasi, ini adalah sebuah proklamasi visi strategis untuk merespons disrupsi global sekaligus kebutuhan konkret pembangunan regional.
Selama ini, institusi berbentuk “Institut” sering kali terjebak dalam apa yang disebut sebagai narrow scope—cakupan keilmuan yang terbatas pada rumpun tertentu, dalam hal ini ilmu-ilmu keagamaan Islam. Secara teoretis, merujuk pada konsep Burton Clark dalam Sustaining Change in Universities (2004), lembaga pendidikan tinggi yang ingin bertahan di era ketidakpastian harus memiliki “pinggiran yang diperluas” (extended periphery). Transformasi menjadi universitas memberikan UNUMA Tuban apa yang disebut sebagai wider mandate (mandat yang lebih luas) dalam tanggung jawab pengelolaan Perguruan Tinggi.
Perluasan ini bukan sekadar menambah jumlah program studi umum seperti sains, teknologi, maupun kesehatan. Lebih dari itu, universitas memberikan fleksibilitas manajerial untuk melakukan integrasi vertikal dan horizontal antar-disiplin ilmu. Di tengah realitas Tuban yang kini bertransformasi menjadi zona industri strategis nasional, dengan keberadaan kilang minyak raksasa dan industri semen, perubahan menjadi universitas adalah langkah “Link and Match” yang presisi. UNUMA Tuban tidak lagi hanya mencetak guru agama atau dai, tetapi menyiapkan manajemen talenta lokal yang mampu mengisi pos-pos teknokratis di industri berat tanpa harus kehilangan identitas santrinya.
Penyematan nama “Makhdum Ibrahim” (nama asli Sunan Bonang) di belakang UNUMA Tuban membawa konsekuensi epistemologis yang sangat dalam. Sunan Bonang dalam sejarah dakwahnya adalah prototipe integrator ulung. Beliau tidak memisahkan antara kesenian, budaya, realitas sosial, dengan nilai ketauhidan. Dalam konteks pendidikan modern, ini sejalan dengan teori Michael Gibbons mengenai Mode 2 Knowledge Production. Gibbons berargumen bahwa pengetahuan di masa depan tidak lagi diproduksi dalam sekat-sekat disiplin yang kaku (Mode 1), melainkan diproduksi dalam konteks aplikasi yang transdisipliner dan sosial.
UNUMA Tuban sedang berupaya meruntuhkan tembok pemisah antara “ilmu langit” (agama) dan “ilmu bumi” (sains). Selama berabad-abad, dunia pendidikan Islam sering kali mengalami dikotomi: agama dianggap sebagai ilmu sakral, sementara sains dianggap sekuler. Di bawah panji Makhdum Ibrahim, UNUMA Tuban harus menjadi laboratorium tempat seorang mahasiswa sains mampu melihat kerja turbin sebagai manifestasi keteraturan ayat-ayat Tuhan (kauniyah), dan seorang perawat melihat tindakan medis sebagai bentuk khidmah kemanusiaan yang teologis. Inilah teknokrat yang santri, sebuah profil lulusan yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus keunggulan kompetitif global.
Namun, transformasi bentuk hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya terletak pada Change Management (Manajemen Perubahan). Mengutip teori John Kotter dalam Leading Change, perubahan organisasi yang sukses memerlukan delapan tahapan, yang dimulai dari menciptakan urgensi hingga mengakar pada budaya organisasi (institutionalizing new approaches).
Sebagai dosen pendidikan Islam, saya melihat bahwa tantangan terbesar UNUMA Tuban bukan pada pembangunan infrastruktur fisik, melainkan pada transformasi perilaku organisasi. Mengubah budaya kerja dari sekolah tinggi yang paternalistik-tradisional menuju Good University Governance (GUG) yang modern, transparan, dan akuntabel adalah harga mati. Universitas menuntut tata kelola yang berbeda: standar akreditasi yang lebih ketat, tuntutan riset yang lebih tinggi, dan sistem penjaminan mutu internal (SPMI) yang berstandar internasional.
Pesan Dirjen Pendis mengenai penguatan SDM dan akreditasi adalah alarm manajerial. Dosen-dosen UNUMA Tuban tidak boleh lagi sekadar menjadi pengajar, melainkan harus menjadi peneliti yang aktif berkontribusi pada jurnal-jurnal bereputasi global. Di sinilah teori The Learning Organization dari Peter Senge menjadi relevan; UNUMA Tuban harus menjadi organisasi yang terus belajar, di mana setiap individu di dalamnya mampu meningkatkan kapasitasnya untuk mencapai hasil yang mereka inginkan.
Langkah UNUMA Tuban menggandeng kampus-kampus mancanegara menunjukkan kesadaran akan pentingnya Global Positioning. Dalam lanskap pendidikan tinggi global, sebuah universitas harus mampu beroperasi melampaui batas-batas geografisnya. Konsep The Multiversity yang dikemukakan oleh Clark Kerr menjelaskan bahwa universitas modern adalah entitas yang kompleks dengan jaringan luas yang melayani berbagai komunitas, termasuk komunitas ilmiah internasional.
Kemitraan internasional bukan sekadar soal gaya hidup akademis, melainkan strategi untuk meningkatkan benchmark kualitas. Dengan membuka diri pada dunia, UNUMA Tuban sedang mengirimkan pesan bahwa warga Nahdliyin Tuban siap menjadi bagian dari warga dunia (global citizen). Visi abad kedua NU untuk mengontekstualisasikan Islam Rahmatan lil ‘Alamin di tingkat global menemukan kendaraan akademisnya di UNUMA Tuban. Internasionalisasi ini akan menjadi filter alami bagi kualitas lulusan agar tidak hanya menjadi “jago kandang”, melainkan mampu berkompetisi di pasar kerja internasional atau melanjutkan studi di pusat-pusat keunggulan dunia.
Harapan masyarakat agar UNUMA Tuban menjadi “Kiblat Akademik” di Tuban menuntut peran universitas sebagai problem solver. Universitas tidak boleh menjadi menara gading yang asyik dengan dirinya sendiri. Mengacu pada teori Triple Helix (Etzkowitz & Leydesdorff), kemajuan sebuah daerah ditentukan oleh sinergi antara akademisi (universitas), industri, dan pemerintah. UNUMA Tuban harus hadir di tengah-tengah problem kemiskinan, isu lingkungan akibat industri, hingga degradasi moral di tengah gempuran digitalisasi.
Sebagai penutup, transformasi IAINU Tuban menjadi UNUMA Tuban adalah kado intelektual terindah di awal abad kedua Nahdlatul Ulama. Ini adalah momentum untuk membuktikan bahwa pesantren dan tradisi NU mampu ber-evolusi tanpa harus kehilangan jati diri. Perubahan ini menuntut keberanian untuk meninggalkan zona nyaman, komitmen pada mutu, dan kejujuran dalam mengelola tata kelola.
Di masa depan, kita ingin melihat bahwa di kaki langit UNUMA Tuban, tidak ada lagi dikotomi antara doa di atas sajadah dan kerja keras di laboratorium. Keduanya adalah satu nafas ibadah. Perjalanan masih panjang, tantangan manajemen masih membentang, namun dengan spirit Makhdum Ibrahim, UNUMA Tuban tengah bersiap menjadi mercusuar peradaban yang memancarkan cahaya ilmu dari pesisir utara Jawa untuk menerangi dunia. Bahwa di universitas ini, sains bukan sekadar angka, dan agama bukan sekadar teks, melainkan harmoni yang menyelamatkan kemanusiaan.
Penulis: Dr. Sholikah, M.Pd.I., Ketua Satuan Tugas Pencegahan & Penanganan Kekerasan Seksual (PPPKS) IAINU Tuban, Dosen Pascasarjana IAINU Tuban dan Anggota Senat di IAINU Tuban.





