LPBI PCNU Tuban Gelar Kajian Data Kebijakan PESTANA di Pondok Pesantren Langitan
Tuban, PCNU Online
Upaya memperkuat kesiapsiagaan pesantren dalam menghadapi risiko bencana terus dilakukan. Salah satunya melalui pengambilan data kajian kebijakan Pesantren Tangguh Bencana (PESTANA) yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Langitan, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, Jumat (25/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kajian untuk mendukung pengembangan konsep sekaligus panduan Pesantren Tangguh Bencana di Jawa Timur. Program ini diinisiasi oleh Kementerian Agama (Kemenag) dan Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemerintah Provinsi Jawa Timur, bekerja sama dengan BPBD serta mendapat dukungan SIAP SIAGA Jawa Timur.
Dalam pelaksanaannya, tim menggandeng Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) di masing-masing kabupaten untuk mendampingi proses pengambilan data pada 10 pondok pesantren terpilih di Jawa Timur.
Pengasuh Pondok Pesantren Langitan, KH Ahsan Ghozali, yang turut mendampingi kegiatan tersebut, menilai kajian PESTANA memiliki arti penting bagi keberlangsungan lembaga pesantren.
“Kegiatan ini sangat penting bagi lembaga pondok pesantren sebagai tempat yang menampung ratusan bahkan ribuan santri. Karena itu, pesantren membutuhkan pedoman untuk mengantisipasi kejadian bencana yang mungkin terjadi,” ujarnya.
Sementara itu, Moh. Humam, selaku enumerator sekaligus Ketua LPBINU Tuban, menjelaskan bahwa pengambilan data bukan sekadar kegiatan pendataan. Melainkan bagian dari proses kajian untuk memperoleh gambaran empiris mengenai kondisi pesantren dalam menghadapi ancaman bencana.
“Pengambilan data ini merupakan bagian dari proses kajian untuk memperoleh data dan informasi empiris dari pesantren yang memiliki risiko terhadap ancaman bencana dan atau memiliki pengalaman dalam upaya penanggulangan bencana,” terang Humam.
Menurut dia, hasil kajian tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam penyusunan kebijakan penanggulangan bencana di lingkungan pesantren.
“Kajian ini diharapkan dapat menjadi salah satu dasar dalam pengembangan kebijakan, regulasi, serta fasilitas implementasi PESTANA di Jawa Timur,” imbuhnya.
Proses pengambilan data di Pondok Pesantren Langitan melibatkan sejumlah unsur penting di lingkungan pesantren. Ustadz Affifuddin selaku Lurah/Kepala Pondok Langitan mengatakan, unsur pesantren dilibatkan secara langsung untuk memberikan informasi sesuai kondisi dan pengalaman yang ada di lapangan.
“Kegiatan ini melibatkan pengasuh, 10 pengurus atau pengajar, dan 50 santri sebagai unsur kunci pesantren dalam proses pengambilan data,” jelasnya.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kapasitas pesantren dalam menghadapi potensi bencana, mulai dari aspek pengetahuan, kesiapsiagaan, kelembagaan, hingga pengalaman penanganan bencana.
Pesantren, dengan jumlah penghuni yang dapat mencapai ratusan hingga ribuan orang, dinilai membutuhkan sistem kesiapsiagaan yang terencana. Karena itu, kajian PESTANA diharapkan tidak berhenti pada proses pengumpulan data, tetapi dapat menjadi pijakan dalam membangun pesantren yang lebih siap, tangguh, dan mampu mengurangi risiko bencana.





