Artikel

Dr. Sholikah UNUMA Tuban: Riset Berbasis Kearifan Lokal Berpeluang Tembus Jurnal Scopus, Kuncinya pada Framing dan Sains Data

Tuban, PCNU Online
Penelitian tentang tradisi lokal, pendidikan Islam di pedesaan, dan khazanah keislaman tidak seharusnya berhenti sebagai pengetahuan yang hanya dikenal di lingkungan masyarakat tempat penelitian itu dilakukan. Dengan konstruksi masalah yang tepat, dukungan teori yang relevan, metodologi yang kuat, serta pemanfaatan teknologi analisis data, persoalan lokal justru dapat dikembangkan menjadi karya ilmiah yang memiliki relevansi dan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan di tingkat internasional.

Perspektif inilah yang ditekankan Dr. Sholikah, M.Pd.I., dosen Universitas Nahdlatul Ulama (UNUMA) Tuban, dalam Webinar Nasional bertajuk “Membuka Tabir Islam Secara Ilmiah di Era Sains Data: From Local Tradition to Global Paper”, Rabu (4/11/2026).

Dalam pemaparannya yang mengangkat tema “From Local Wisdom to Global Impact: Strategi Riset Inovatif dan Publikasi Ilmiah Bereputasi”, Sholikah menegaskan bahwa persoalan utama penelitian lokal bukan terletak pada keterbatasan objek kajian, melainkan pada kemampuan peneliti membangun perspektif akademik yang dapat diterima dalam percakapan ilmiah global. Ia menepis anggapan bahwa penelitian mengenai tradisi masyarakat, praktik pendidikan pesantren, maupun problematika guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di wilayah pedesaan tidak memiliki daya tarik bagi jurnal bereputasi, termasuk jurnal nasional terakreditasi SINTA 1–2 dan jurnal internasional terindeks Scopus.

“Sebaliknya, pengalaman lokal yang belum banyak dieksplorasi dalam literatur internasional justru dapat menjadi sumber kebaruan penelitian apabila dikembangkan melalui pendekatan ilmiah yang tepat. Gagasan tersebut menjadi penting, terutama bagi peneliti di perguruan tinggi daerah agar tidak membatasi orientasi publikasinya hanya pada lingkup regional,” jelasnya.

Salah satu strategi yang ditekankan Sholikah adalah melakukan transformasi research framing, yakni mengubah cara peneliti merumuskan dan memosisikan persoalan lokal agar terhubung dengan isu serta teori global. Ia memberikan contoh penelitian mengenai hambatan guru PAI di Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban. Persoalan yang semula dapat dirumuskan secara sederhana sebagai hambatan guru PAI di Kerek dapat dikembangkan menjadi “Digital Divide and Religious Pedagogical Resistance: A Case Study of Islamic Teachers in Rural Java in Society 5.0 Era”.

Menurut pendekatan ini, peneliti tidak cukup hanya menggambarkan kesulitan guru dalam melaksanakan pembelajaran, tetapi perlu menghubungkannya dengan diskursus yang lebih luas, seperti kesenjangan digital, resistensi pedagogis, transformasi pendidikan keagamaan, dan pemerataan akses teknologi.

“Dengan demikian, lokalitas tidak dihilangkan, melainkan ditempatkan sebagai konteks empiris untuk menjawab pertanyaan akademik yang memiliki jangkauan lebih luas,” tegasnya.

Selanjutnya, untuk memperkuat konstruksi penelitian tersebut, Sholikah memperkenalkan sejumlah perspektif teoretis, antara lain Society 5.0, Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK), serta Digital Justice atau Digital Equity. Ketiga perspektif tersebut dapat membantu peneliti membaca persoalan pendidikan Islam di pedesaan secara lebih komprehensif. Keterbatasan teknologi yang dialami guru PAI, misalnya, tidak hanya dipahami sebagai persoalan fasilitas pembelajaran, tetapi juga dapat dianalisis sebagai persoalan keadilan digital, kesenjangan kompetensi, dan kesiapan pedagogis dalam menghadapi perubahan masyarakat berbasis teknologi.

Sholikah juga menekankan pentingnya menggunakan bahasa konseptual yang dapat dipahami komunitas akademik internasional. Dalam contoh yang disampaikan, Kerek dapat diperkenalkan sebagai bagian dari Rural Java, Indonesia, sedangkan Kitab Kuning dapat ditempatkan dalam kerangka Indigenous Islamic Pedagogy.

“Strategi ini memungkinkan identitas lokal tetap dipertahankan sekaligus memperoleh posisi dalam diskursus keilmuan yang lebih luas,” lanjutnya.

Selain ketepatan framing, aspek kebaruan atau novelty menjadi perhatian penting dalam membangun artikel ilmiah bereputasi. Sholikah mengingatkan bahwa kebaruan penelitian tidak cukup hanya dinyatakan melalui kalimat bahwa penelitian tersebut belum pernah dilakukan sebelumnya. Peneliti perlu menunjukkan bukti yang dapat menjelaskan posisi penelitiannya di antara berbagai penelitian terdahulu.

Untuk itu, ia memperkenalkan VOSviewer sebagai perangkat analisis bibliometrik yang dapat digunakan untuk memetakan hubungan antarkata kunci, jaringan penulis, perkembangan tema, dan kecenderungan penelitian dalam suatu bidang keilmuan,” tegasnya.

Pemanfaatan perangkat ini membantu peneliti membaca lanskap literatur secara lebih sistematis, mengidentifikasi topik yang telah banyak dikaji, sekaligus menemukan ruang penelitian yang masih terbuka. Dengan kata lain, research gap perlu dibangun berdasarkan penelusuran literatur yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan semata-mata berdasarkan asumsi peneliti.

Dalam demonstrasinya, Sholikah menjelaskan tahapan penggunaan VOSviewer yang dapat dimulai dengan mengumpulkan publikasi ilmiah melalui Publish or Perish, kemudian menyiapkan metadata artikel dalam format RIS untuk diolah menggunakan VOSviewer. Sebagai ilustrasi, ia menggunakan 200 artikel dari basis data Scopus untuk memperlihatkan bagaimana peta penelitian dapat dibangun dan dibaca. Terdapat tiga bentuk visualisasi yang perlu diperhatikan, yaitu Network Map, Overlay Map, dan Density Map. Network Map digunakan untuk melihat keterhubungan antartopik, Overlay Map membantu mengidentifikasi perkembangan tema berdasarkan periode publikasi, sedangkan Density Map memperlihatkan konsentrasi kajian dan area yang relatif belum banyak diteliti. Melalui pemetaan tersebut, peneliti dapat menelusuri, misalnya, apakah pembahasan mengenai teknologi dan keadilan Islam telah terhubung dalam literatur sebelumnya serta bagaimana tema-tema baru seperti kecerdasan buatan (AI) dan ChatGPT berkembang pada periode 2024–2026. Hasil visualisasi ini selanjutnya dapat digunakan sebagai bukti pendukung dalam penyusunan kajian pustaka dan identifikasi kebaruan penelitian.

Penguatan metodologi juga perlu dilakukan pada tahap pengolahan data lapangan. Untuk penelitian kualitatif, Sholikah memperkenalkan QDA Miner Lite dan NVivo sebagai perangkat yang membantu peneliti mengelola transkrip wawancara, melakukan pengodean (coding), mengidentifikasi frekuensi kemunculan tema, serta membandingkan temuan berdasarkan kelompok informan. Ia memberikan ilustrasi pengolahan enam transkrip wawancara guru dengan menggunakan kode seperti GAPTEK dan MINIM_PELATIHAN. Pernyataan informan yang telah dikelompokkan berdasarkan tema kemudian dapat dianalisis melalui frekuensi pengodean dan matriks perbandingan.

Dalam demonstrasi tersebut ditampilkan ilustrasi kecenderungan tema kesenjangan teknologi pada kelompok guru senior yang mencapai 7,5 kali dibandingkan kelompok pembanding. Angka tersebut merupakan contoh hasil demonstrasi dalam materi, bukan kesimpulan empiris yang dapat digeneralisasikan tanpa pengujian terhadap data penelitian yang sebenarnya.

Menurut Sholikah, kombinasi analisis bibliometrik melalui VOSviewer dan analisis data kualitatif menggunakan QDA Miner Lite atau NVivo dapat menghasilkan landasan penelitian yang lebih kuat. VOSviewer membantu peneliti memperlihatkan posisi dan celah penelitian berdasarkan peta literatur, sedangkan perangkat analisis kualitatif membantu mengorganisasikan bukti empiris dari hasil wawancara. Keduanya dapat memperkuat argumentasi peneliti ketika menjelaskan kebaruan, metodologi, dan temuan kepada reviewer. Namun, ia juga menekankan bahwa perangkat lunak tidak dapat menggantikan kapasitas intelektual peneliti.

Kemampuan memahami konteks, menafsirkan makna data, menguji konsistensi temuan, serta membangun argumentasi ilmiah tetap menjadi tanggung jawab peneliti. Teknologi harus ditempatkan sebagai instrumen untuk meningkatkan ketelitian dan keterlacakan proses penelitian, bukan sebagai pengganti nalar akademik.

Pada aspek publikasi, Sholikah menawarkan strategi peningkatan kualitas artikel secara bertahap agar peneliti memiliki jalur pengembangan yang terarah. Tahap awal dapat dimulai melalui jurnal nasional terakreditasi SINTA 4 atau SINTA 3 sebagai ruang pematangan kemampuan menulis dan membangun fondasi publikasi. Selanjutnya, peneliti dapat meningkatkan target ke jurnal SINTA 2 atau SINTA 1 dengan memperkuat framing global, mempertajam kontribusi penelitian, serta mempelajari dan mengutip tiga hingga lima artikel relevan dari jurnal yang menjadi sasaran publikasi. Tahap berikutnya adalah mengembangkan artikel berbahasa Inggris dengan dukungan literatur internasional, data yang kuat, dan pembahasan isu-isu global untuk diarahkan ke jurnal terindeks Scopus Q4 hingga Q3.

Dalam materi yang disampaikan, setiap jenjang tersebut memiliki estimasi waktu pengembangan, mulai dari satu hingga dua bulan untuk tahap awal, tiga hingga enam bulan untuk penguatan publikasi nasional, dan enam hingga dua belas bulan untuk persiapan menuju jurnal internasional. Tahapan ini merupakan peta strategi pengembangan, bukan jaminan penerimaan artikel oleh jurnal yang dituju.

Lebih jauh, Sholikah mengajak peneliti memahami cara pandang reviewer dalam mengevaluasi sebuah artikel ilmiah. Setidaknya terdapat lima unsur yang harus saling berkaitan, yakni masalah global, kesenjangan penelitian lokal, ketepatan metode, keunikan temuan, dan kontribusi ilmiah. Sebuah artikel, misalnya, dapat mengangkat Society 5.0 sebagai persoalan global, menjadikan pengalaman guru PAI di pedesaan sebagai konteks penelitian, menggunakan pemetaan 200 artikel melalui VOSviewer dan analisis enam informan menggunakan QDA sebagai ilustrasi pendekatan metodologis, kemudian menghasilkan temuan yang memberikan dasar bagi pengembangan model keadilan digital.

Kelima unsur tersebut harus membentuk argumentasi yang utuh sejak pendahuluan hingga kesimpulan. Reviewer tidak hanya menilai apakah suatu penelitian menarik, tetapi juga apakah persoalan yang diangkat memiliki relevansi, metode yang digunakan dapat dipertanggungjawabkan, temuan didukung bukti, dan kontribusinya memberikan nilai tambah bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Dalam menghadapi proses evaluasi dan revisi artikel, Sholikah memperkenalkan pendekatan 3A, yaitu Appreciate, Answer, dan Add Evidence. Pendekatan ini mengajarkan penulis untuk menghargai setiap masukan reviewer, memberikan jawaban yang relevan dan argumentatif, serta menambahkan bukti pendukung untuk memperkuat respons terhadap catatan perbaikan. Menurut strategi tersebut, revisi tidak semestinya dipahami sebagai bentuk kegagalan atau penolakan terhadap kapasitas penulis, melainkan sebagai bagian penting dari mekanisme penjaminan mutu publikasi ilmiah. Penulis perlu membaca komentar reviewer secara cermat, mengidentifikasi substansi kritik, menjawabnya secara profesional, dan menunjukkan bagian naskah yang telah diperbaiki.

“Dengan demikian, proses komunikasi akademik antara penulis dan reviewer menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas argumentasi, ketepatan metodologi, serta kredibilitas hasil penelitian,” tutupnya.

Sebagai langkah praktis, Sholikah juga menyampaikan roadmap tujuh hari menuju pengajuan artikel ilmiah. Hari pertama dan kedua diarahkan untuk menyelesaikan pemetaan literatur menggunakan VOSviewer sebagai penguatan Bab II. Hari ketiga dan keempat difokuskan pada pengolahan data kualitatif menggunakan QDA untuk memperkuat Bab IV. Hari kelima digunakan untuk menyusun abstrak dalam lima kalimat yang mencakup persoalan, tujuan, metode, temuan, dan kontribusi penelitian. Hari keenam diarahkan pada pengelolaan referensi menggunakan Zotero serta pemeriksaan kemiripan naskah melalui Turnitin.

Selanjutnya, hari ketujuh menjadi tahap pengajuan artikel ke jurnal yang telah ditargetkan, dalam contoh materi tersebut adalah jurnal SINTA 2. Peta jalan ini disertai dukungan bahan latihan berupa file RIS berisi 200 artikel, tiga transkrip wawancara latihan, template artikel SINTA 2, serta daftar 20 jurnal sebagai referensi target publikasi. Strategi tersebut memberikan gambaran bahwa proses menyiapkan artikel ilmiah dapat dikelola melalui tahapan kerja yang terstruktur dan terukur.

Paparan Sholikah dalam webinar nasional yang diselenggarakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) D Semester 5 UNUMA Tuban dalam rangka mata kuliah Riset Studi Keislaman tersebut menempatkan sains data sebagai salah satu instrumen penting dalam pengembangan penelitian keislaman. Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting itu juga menghadirkan Dian Rustyawati, S.T., M.M.Pd. sebagai pemateri kedua. Sholikah sendiri merupakan dosen UNUMA Tuban yang tercatat sebagai wisudawan terbaik Program Doktor (S3) Studi Islam Konsentrasi Pendidikan Agama Islam UIN Walisongo Semarang pada Tahun 2021.

Ia juga mengemban amanah sebagai Ketua Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di lingkungan IAINU/UNUMA Tuban. Melalui gagasan From Local Wisdom to Global Impact, ia mendorong mahasiswa dan kalangan akademisi untuk membangun tradisi penelitian yang tidak hanya kuat dalam memahami realitas lokal, tetapi juga mampu menyampaikan temuan dan kontribusinya dalam standar komunikasi ilmiah internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button