BeritaMWCNUNu NewsWARTA

MWCNU Soko Hidupkan Kembali Semangat Khidmat dari Akar Rumput

Tuban, PCNU Online
Ratusan pengurus NU di semua tingkatan se Kecamatan Soko memenuhi Masjid Jami’ Baiturrohim Soko pada Jumat sore, (01/05/2026). Bukan karena perintah, melainkan panggilan hati hadir dalam gelaran Naharul Ijtima’ Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Soko, Kabupaten Tuban.

Ada dua topik utama yang diangkat dalam Naharul Ijtima’ kali ini. Topik pertama adalah sosialisasi hasil Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) PWNU Jawa Timur. Topik kedua adalah kilas balik sejarah Khidmat lil ummah para masyayikh NU Soko sejak awal berdirinya.

Ketua MWCNU Soko, KH Anwar dalam sambutannya menegaskan, soliditas organisasi di bangun dari tengah-tengah kehidupan masyarakat. Oleh karenanya, penting untuk mengetahui perihal keputusan-keputusan organisasi.

“Hal penting lainnya, saat khidmat juga harus mengetahui sejarah perjuangan para masyayikh kita. Ini menjadi penyemangat dan silaturruh dengan beliau-beliau yang telah mendahului kita,” tandasnya.

Sementara itu, dalam paparannya KH Muhammad Ma’ruf Zuhdi mewakili PCNU Kabupaten Tuban, menyebut ada beberapa rumusan penting yang dihasilkan dalam Muskerwil NU Jawa Timur.

“Kita semua mengharapkan Muktamar 35 harus berjalan sejuk. Artinya, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin,” ujar KH Ma’ruf Zuhdi.

Ia menegaskan bahwa pengelolaan NU harus berbasis nahnuniyyah (bersama secara kolektif).

“Bukan ananiyyah yang bersifat individualistik,” tegasnya.

Ada juga isu tentang pentingnya bagi NU untuk merumuskan fikih teknologi dan AI agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

“Ini mendesak untuk umat hari ini sehingga menjadi perhatian dalam forum Muskerwil NU yang lalu,” lanjutnya.

Masih menurut Kiai Ma’ruf, “ketahanan keluarga seperti GKMNU kemarin juga dirumuskan oleh forum. Karena kita sadar bahwa ketahanan keluarga menjadi kunci kekuatan umat,” tambahnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Khodijatul Kubro Widang Tuban tersebut juga menilai bahwa NU harus terus berperan penting dalam resolusi konflik dunia.

“NU harus hadir membawa nilai moderasi dan perdamaian,” katanya.

Beliau menekankan pentingnya dialog dan pendekatan inklusif dalam menjawab tantangan global yang semakin kompleks.

Naharul Ijtima’ ini kembali mengingatkan pengurus NU yang hadir bahwa pentingnya tantangan regenerasi pengurus di tingkat desa, kebutuhan akan program pendidikan non-formal, hingga harapan agar NU lebih hadir dalam isu-isu sosial konkret di masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button