Tuban, PCNU Online
Mahasiswa IAINU Tuban turut membantu menyukseskan pengajian Sedekah Bumi yang menjadi bagian dari rangkaian Haul Mbah Buyut Plangkangan di Dusun Plangkangan, Desa Mandirejo, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Minggu (12/7/2026) pukul 19.00 WIB. Kegiatan tersebut dihadiri oleh masyarakat Desa Mandirejo khususnya warga dusun plangkangan yang antusias mengikuti rangkaian acara hingga selesai.
Sebelum pengajian dimulai, Kepala Desa Mandirejo, Supriono, menyampaikan sambutan sekaligus mengajak masyarakat untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah Swt. Menurutnya, makna utama Sedekah Bumi bukan terletak pada banyak atau sedikitnya hasil yang diterima, melainkan pada rasa syukur dan kebersamaan yang terus dijaga.
“Alhamdulillah, semoga seluruh rangkaian Sedekah Bumi ini dapat berjalan dengan lancar. Mari kita syukuri apa pun rezeki yang Allah berikan, termasuk daging sapi yang nanti diterima masyarakat. Yang paling penting adalah rasa syukur dan kebersamaan kita,” ujar Supriono.
Pengajian kemudian disampaikan oleh KH. Arif Yoyok dari Surabaya. Dalam tausiyahnya, beliau mengingatkan bahwa setiap orang yang berjuang di jalan Allah akan memperoleh kemudahan dari-Nya. Menurutnya, semangat beribadah, bersedekah, dan menjaga persaudaraan merupakan bagian dari perjuangan yang akan mendapat balasan kebaikan dari Allah Swt.
“Siapa saja yang berjuang di jalan Allah, insyaallah akan dipermudah oleh Allah. Semoga Sedekah Bumi yang dilaksanakan masyarakat Desa Mandirejo ini menjadi amal kebaikan yang mempermudah jalan menuju surga,” tutur KH. Arif Yoyok.
Dalam ceramahnya, KH. Arif Yoyok juga menjelaskan bahwa keberagaman budaya bukanlah sesuatu yang perlu dipersoalkan selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Ia mencontohkan adanya perbedaan praktik keagamaan di kalangan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang tetap berada dalam satu akidah Islam.
“Perbedaan budaya itu tidak masalah. NU dan Muhammadiyah juga memiliki beberapa perbedaan dalam praktik keagamaan, tetapi tetap sama-sama Islam. Yang terpenting, jangan sampai keluar dari tuntunan fikih,” jelasnya.
Beliau menambahkan bahwa tradisi yang berkembang di masyarakat sebelum datangnya Islam tidak seluruhnya dihapus. Islam justru mengambil nilai-nilai yang baik, kemudian menyempurnakannya agar sesuai dengan ajaran agama.
“Dulu sudah ada tradisi yang hampir seperti ini, tetapi berasal dari budaya sebelum Islam. Ketika Islam datang, yang baik tetap dipertahankan, sedangkan yang kurang sesuai diperbaiki agar selaras dengan ajaran Islam. Itulah indahnya dakwah Islam,” tambahnya.
Suasana pengajian berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Gaya penyampaian KH. Arif Yoyok yang komunikatif, diselingi humor dan lantunan lagu bernuansa Islami, membuat jamaah tetap fokus menyimak materi hingga acara berakhir. Sesekali gelak tawa terdengar dari para hadirin, namun tidak mengurangi kekhusyukan dalam mengikuti tausiyah.
Kehadiran mahasiswa IAINU Tuban dalam kegiatan tersebut menjadi bentuk partisipasi aktif dalam mendukung pelaksanaan tradisi keagamaan dan budaya masyarakat. Selain membantu kelancaran acara, mahasiswa juga memperoleh pengalaman berharga dalam memahami nilai-nilai lokal yang tetap berpijak pada ajaran Islam serta memperkuat hubungan dengan masyarakat Desa Mandirejo.





