Antusias Mahasiswa IAINU Tuban dalam Agenda Rutin Selapanan di Masjid Al Ghozali Pakis
Tuban, PCNU Online
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) IAINU Tuban yang melaksanakan pengabdian di Desa Pakis, Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban, mengikuti agenda pembinaan keagamaan melalui penyampaian mauidhah hasanah oleh Kiai Abdul Wahab, Senin (12/07/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan spiritual mahasiswa sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat setempat.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Abdul Wahab memanjatkan doa agar seluruh mahasiswa KKN senantiasa diberikan kemudahan dalam menjalankan setiap program kerja, memperoleh kesuksesan di masa mendatang, serta menjadikan seluruh aktivitas pengabdian sebagai amal yang bermanfaat bagi masyarakat.
Mengangkat tema adab pertemanan, Kiai Abdul Wahab menegaskan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual, tetapi juga oleh akhlak dan etika dalam menjalin hubungan dengan sesama.
“Islam memberikan perhatian besar terhadap pentingnya menjaga persaudaraan dan membangun hubungan sosial yang dilandasi keikhlasan,” terangnya.
Dalam penyampaiannya, beliau mengutip sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan bahwa setiap bentuk persahabatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Pesan tersebut mengandung makna bahwa setiap hubungan yang terjalin antarmanusia merupakan amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
Kiai Abdul Wahab juga menguraikan sejumlah sikap yang menjadi landasan dalam membangun persahabatan. Seorang muslim dianjurkan untuk gemar berbagi ilmu, pengalaman, maupun rezeki kepada orang lain.
“Sikap ringan tangan dalam membantu teman yang sedang mengalami kesulitan menjadi salah satu wujud nyata ukhuwah Islamiyah yang perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Beliau turut mengingatkan pentingnya menjaga kehormatan teman dengan tidak menyebarkan aib maupun rahasia yang telah dipercayakan. Apabila menerima kabar yang kurang baik mengenai orang lain, hendaknya seseorang tidak tergesa-gesa mempercayai atau menyebarkannya, melainkan melakukan tabayun atau memilih diam hingga kebenarannya dapat dipastikan.
Tidak hanya itu, mahasiswa juga diajak untuk membiasakan diri menghargai orang lain dengan mendengarkan ketika teman berbicara, menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat, serta ikut bersyukur dan berbahagia atas keberhasilan yang diraih orang lain.
“Memanggil teman dengan panggilan yang disukai, memberikan apresiasi atas kebaikannya, dan mengucapkan terima kasih ketika menerima bantuan juga menjadi bagian dari adab yang perlu dijaga,” lanjut Kiai Abdul Wahab.
Menurut Kiai Abdul Wahab, seorang muslim hendaknya berani membela temannya ketika diperlakukan tidak adil, memberikan nasihat dengan niat yang tulus, serta tidak segan meminta maaf dan memaafkan apabila terjadi kesalahan. Sikap saling memaafkan dinilai sebagai salah satu kunci dalam menjaga keharmonisan hubungan antarsesama.
Beliau juga mengajak mahasiswa untuk senantiasa mendoakan sahabatnya, terutama pada waktu-waktu yang mustajab. Bahkan setelah seorang teman meninggal dunia, bentuk persahabatan tetap dapat diwujudkan dengan menjaga silaturahmi dan berbuat baik kepada keluarga yang ditinggalkan.
Menutup mauidhahnya, Kiai Abdul Wahab berpesan agar mahasiswa tidak menjadi beban bagi orang lain, melainkan menjadi pribadi yang mampu memberikan manfaat. Beliau menegaskan bahwa perlakuan baik dari orang lain harus diawali dengan memperlakukan orang lain secara baik terlebih dahulu.
“Persahabatan yang sejati adalah persahabatan yang terjalin secara lahir maupun batin (dhahiran wa batinan), dilandasi keikhlasan, ketulusan, saling percaya, serta saling mendoakan,” pungkasnya.





