ArtikelBeritaBisnis EkonomiRAMADHAN

Bubur Muhdor, Tradisi Takjil Sejak Zaman Pra Kemerdekaan

Tuban, PCNU Online
Jika anda sedang ngabuburit di seputaran Kota Tuban, atau kebetulan melintas di Jalan Pramuka, tidak ada salahnya berhenti sejenak ikut antre takjil bubur khas Timur Tengah di halaman Masjid Muhdor, di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban.

Saban sore—menjelang waktu berbuka, puluhan bahkan hingga ratusan warga rela antre demi mendapatkan bubur yang namanya diambil dari nama masjid—tempat pembuatan bubur tersebut. Dari dulu hingga sekarang, orang-orang menamainya bubur muhdor.

Bubur yang hanya dibuat pada Bulan Suci itu sudah ada sejak puluhan tahun silam, bahkan sebelum kemerdekaan. Selain hanya ada di bulan Ramadan, bubur yang satu ini rasanya khas rempah Arab. Berbeda dengan bubur-bubur pada umumnya yang dibuat orang Jawa.

Penganan yang menjadi sajian takjil ini menggunakan beraneka bahan rempah-rempah khas masakan Timur Tengah dicampur santan dan balungan sapi. Begitu juga pemasaknya, langsung dari kalangan keturunan Arab. Ciri khas inilah yang menjadikan bubur muhdor berasa original Hadramaut, Yaman—kampungnya para leluhur keturunan Arab.

Pengurus Masjid Muhdor Habib Agiel Bunumay mengungkapkan, tradisi pembuatan bubur muhdor ini sudah berlangsung turun temurun. Berdasar cerita tutur yang diterima, bubur muhdor ini sudah ada sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. “Saat kecil saya dulu, bubur ini di antar ke rumah-rumah warga di sekitar Masjid Muhdor,” tuturnya.

Disampaikan dia, setiap harinya tak kurang dari 500 porsi lebih takjil dibagikan ke warga sekitar. Pembagian berlangsung pukul 16.00. “Biasanya warga sudah antre dari pukul 15.30,” katanya.

Lebih lanjut Habib Agiel menyampaikan, resep pembuatan bubur Muhdor sebenarnya tidak jauh beda dengan masakan nasi gulai pada umumnya. Hanya saja, ada tambahan rempah-rempah khusus, sehingga bercita rasa khas Timur Tengah. “Masaknya di kuali besar berbahan kuningan kurang lebih selama 3-4 jam,” ujarnya.

Proses pembuatannya dimulai dari rendaman beras, kemudian dimasukan dalam panci yang berisi air mendidih. Beras dalam panci diaduk hingga masak menjadi bubur. Selanjutnya dimasukan santan dan bumbu-bumbu pelangkap secara bergantian sembari terus diaduk. Setelah bumbu-bumbu tercampur semua, dan bubur sudah jadi. Tahap terakhir adalah pembagian kepada warga.

Biasanya, warga sudah membawa mangkok masing-masing. Bahkan adalah pula yang membawa panci dan timba. Pengantre yang membawa panci dan timba biasanya dari perwakilan musala untuk dibagikan kembali kepada warga sekitar musala masing-masing.

Yang Antre dari Semua Kalangan

Syaiful, salah satu warga asal Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban biasanya antre sejak pukul 15.00. “Karena sistem antre, sehingga siapa yang datang duluan, dia yang di depan,” terang bocah berusia delapan tahun itu.

Syaiful mengatakan, rasa dari bubur Muhdor ini berbeda dengan lainnya. Campuran dagingnya yang menyatu dengan masakan sangat menggiurkan pada saat disantap. “Rasanya enak banget,” ucapnya.

Hal serupa disampaikan Angga. Pria yang sudah lebih dewasa ini juga saban hari ikut antre. Sejauh dia tahu, yang ikut antre tidak hanya dari sekitar Masjid Muhdor, tapi juga dari luar Kecamatan Tuban. “Dari Kecamatan Semanding, Jenu, dan Palang juga kadang sering ikut antre,” katanya. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button