Tuban, PCNU Online
Secara resmi, Kampus Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban berubah bentuk menjadi Universitas Nahdlatul Ulama Makhdum Ibrahim (UNUMA). Surat Keputusan (SK) perubahan bentuk tersebut diserahkan langsung Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam (Pendis) Kementerian Agama (Kemenag) Prof. Suyitno kepada Rektor IAINU Tuban Prof. Syamsul Huda.
Penyerahan SK yang digelar di Aula KH. Hasyim Asy’ari pada Jumat (28/8/2026) tersebut juga dirangkai dengan pembinaan karier sumber daya manusia (SDM).
Selain Dirjen Pendis, hadir dalam penyerahan SK tersebut Kepala Kantor Kemenag Tuban Umi Kulsum, Pengurus PCNU Tuban, pengurus BPP IAINU Tuban, dan Senat. Dari jajaran rektorat IAINU Tuban, selain Rektor hadir seluruh Wakil Rektor, para Dekan, Kaprodi, Ketua Lembaga dan Unit, serta tenaga kependidikan (tendik) dan karyawan.
Dalam pembinaannya, Prof. Suyitno mengatakan, semoga SK tersebut membawa keberkahan. Sebab, penyerahan SK dilakukan tepat pada hari Jumat.
‘’Ini bukan kebetulan, di dalam teologi tidak ada kebetulan, Hari Jumat adalah yaumul berkumpul, hari berkumpul ini skenario Tuhan kenapa penyerahan SK bertepatan pada hari Jumat,’’ ujarnya.
Maknanya, kata Prof. Suyitno, dari satu sisi harus terus menjaga dan merawat perkumpulan. Sebab, perguruan tinggi ini berdiri di bawah perkumpulan.
‘’Ndilalah kok turunnya (SK) hari Jumat,’’ tambahnya.
Setelah menjadi universitas, lanjutnya, semua akan semakin luas, baik akses mahasiswanya maupun bidang ilmu dan lainnya. Jika dulu spesifik mulai dari STITMA, kemudian IAINU, lalu menjadi UNUMA, maka saat ini akses lebih luas bisa diberikan kepada masyarakat.
‘’Tuban punya Ronggolawe yang menjadi contoh pejabat kritis, maka UNUMA juga harus menjadi kampus yang kritis. Kalau kampus sudah tidak mau berfikir kritis lalu masyarakat harus berkiblat ke mana,’’ katanya.
Kampus berbeda dengan madrasah atau sekolah. Kampus ada pengabdian kepada masyarakat (PKM), sedangkan madrasah tidak ada. Kalau sudah ada pembelajaran, sudah cukup.
‘’Kalau kampus harus ada riset, kalau ada kampus dosennya hanya mengajar saja, tidak ada riset, tidak ada PKM maka itu kampus rasa sekolah, rasa madrasah,” urainya.
Dosen juga harus terus meningkatkan kapasitas dan kualifikasinya. Di UNUMA nanti, kata Prof. Suyitno, minimal harus punya 7 guru besar. Hal itu menurutnya sebuah kebutuhan. Sehingga dosen harus terus meningkatkan kompetensi, karena hal itu akan menjadi branding.
‘’Kalau mau bermitra dengan kampus lain, kalau mau kerjasama selalu ditanya akreditasimu apa? Maka harus unggul. Walaupun negeri kalau tidak unggul masih di bawah swasta. Kalau akreditasi masih baik itu minimalis, jadilah kaum maksimalis. Jadi setelah SDM harus mengawal akreditasinya,’’ harapnya.
Untuk prodi yang unggul, statusnya sejajar dengan universitas-universitas lain yang prodinya juga unggul.
‘’Sekarang tidak melihat negeri atau swasta tapi apa akreditasinya, akreditasi prodinya dam sebagainya,’’ tandasnya.
Sementara itu, Rektor IAINU Tuban Prof. Syamsul mengatakan, penyerahan SK hari itu adalah sebuah momen bersejarah. Dari IAINU menjadi UNUMA, menurutnya, bukan hanya perubahan bentuk, tetapi bagian dari strategi paradigma pendidikan di Indonesia, yakni paradigma adaktif.
‘’Alih status ini menjadi mimpi panjang IAINU. Saat awal saya ditugasi PBNU menjadi rektor, salah satunya untuk menaikkan level institut menjadi universitas. Ini hasil kerja keras kita semua. Tentu tanggungjawab makin besar,” ujarnya.
Menurut Prof. Syamsul, menaikkan level dan memperluas akses tidak hanya bicara pada islamis studies, tetapi bagaimana studi keislaman masuk sains. Dengan berubah menjadi universitas, jangkauan menjadi makin luas karena akan menawarkan prodi-prodi umum juga.
“Juga bisa kerjasama dengan pemerintah. Karena selama ini dikenal agamis, tapi sekarang kita buka juga untuk umum,” jelasnya.
Selama ini IAINU Tuban, lanjut Prof. Syamsul, sudah banyak prestasi yang didapat. Prestasi itu menjadi motivasi untuk berubah dari kecil menjadi besar, dari small menjadi great.
“Itu bisa didapat dengan kerja keras dan disiplin. Sekarang kita punya 6 doktor, 1 Lektor Kepala, pada 2027 nanti tambah doktor lagi, dan semoga segera ada guru besar,” katanya.
Sebelumnya, IAINU Tuban sudah punya 4 fakultas, yakni Fakultas Tarbiyah dengan 3 prodi untuk strata satu, yakni Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), dan Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), serta program S2 Prodi PAI.
Kemudian Fakultas Dakwah dengan Prodi Manajemen Dakwah dan Psikologi Islam. Lalu Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) dengan Prodi Perbankan Syariah (PS), dan Fakultas Syariah dengan Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI). Ke depan, jumlah fakultas maupun prodinya bakal bertambah lagi.





