BeritaLembaga NUNu NewsWARTA

Menyongsong Hari Santri 2026, KH Noer Nasroh Serahkan Dua Karya Pemikiran kepada PCNU Tuban

Tuban, PCNU Online
Menyongsong Hari Santri 2026, Prof. Dr. KH. KPP. Noer Nasroh Hadiningrat, menyerahkan dua karya pemikirannya kepada Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Tuban, Senin (05/10/2026).

Dua buku tersebut masing-masing berjudul Historis Qonun Azasi Nahdlatul Ulama dan Resolusi Jihad Penggerak Bangsa. Penyerahan berlangsung di Pondok Pesantren Wali Songo Gomang dan diterima langsung Ketua PCNU Tuban KH Ahmad Damanhuri.

KH Noer Nasroh yang juga merupakan Mustasyar PCNU Tuban menyampaikan kedua karya tersebut sebagai sumbangan pemikiran untuk memperkaya khazanah keilmuan dan kebangsaan, khususnya dalam memaknai kembali warisan perjuangan para ulama dan santri di tengah perubahan zaman.

Dalam Historis Qonun Azasi Nahdlatul Ulama, Qonun Asasi tidak hanya ditempatkan sebagai dokumen historis kelahiran NU, tetapi dibaca sebagai landasan nilai yang menghubungkan Ahlussunnah wal Jamaah, tradisi bermazhab, akhlak, ukhuwah, kebangsaan hingga kehidupan bernegara. Pemikiran tersebut kemudian diarahkan pada tantangan abad kedua NU agar tradisi tetap terjaga sekaligus mampu menjawab perkembangan zaman.

Sementara itu, Resolusi Jihad Penggerak Bangsa mengulas Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 bukan semata sebagai peristiwa sejarah, tetapi sebagai ijtihad ulama yang menggerakkan kesadaran keagamaan menjadi kekuatan dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa. Spirit tersebut kemudian ditarik ke konteks kekinian melalui jihad ilmu pengetahuan, teknologi, moderasi, keadilan sosial hingga kepedulian terhadap lingkungan.

Ketua PCNU Tuban KH Ahmad Damanhuri menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas penyerahan kedua karya tersebut. Menurutnya, pemikiran yang dituangkan KH Noer Nasroh menjadi bagian penting dari ikhtiar merawat warisan intelektual ulama sekaligus menghadirkannya agar tetap relevan bagi generasi sekarang.

PCNU Tuban selanjutnya akan berupaya menindaklanjuti sumbangan pemikiran tersebut agar dapat dikenal dan dipahami secara lebih luas. Tidak hanya sebagai karya literatur, tetapi juga sebagai bahan refleksi untuk memperkuat khidmat jamiyah, kesadaran kebangsaan, serta aktualisasi nilai perjuangan ulama dan santri.

Momentum penyerahan dua buku menjelang Hari Santri ini sekaligus menegaskan bahwa warisan ulama tidak hanya dirawat melalui peringatan sejarah, tetapi juga melalui tradisi keilmuan dan ikhtiar menghadirkan pemikiran yang terus hidup dan memberi makna bagi perkembangan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button