LAZISNU Jatim Tetapkan Pantura sebagai Pilot Project Standarisasi Koin NU
Tuban, PCNU Online
Gerakan koin di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar urusan mengumpulkan recehan. Ia adalah manifestasi kemandirian umat yang butuh standarisasi dan akuntabilitas tingkat tinggi. Untuk mewujudkannya, NU Care-LAZISNU PWNU Jawa Timur menetapkan wilayah pesisir utara (Pantura) sebagai wilayah proyek (pilot project) penguatan sistem koinisasi.
Langkah strategis ini dibahas dalam Rapat Koordinasi (Rakor) NU Care-LAZISNU se-Pantura yang berlangsung di kediaman Koordinator Koinisasi PWNU Jatim, Beni Sayogo, di Desa Besowo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban, Minggu (5/4/2026). Pertemuan ini dihadiri oleh jajaran pengurus dan manajemen eksekutif dari PCNU Lamongan, Babat, Bojonegoro, dan Tuban, serta menghadirkan pemantik diskusi dari Kabupaten Malang dan Sidoarjo.
Direktur NU Care-LAZISNU PWNU Jawa Timur, Moch. Rofi’i Boenawi, menegaskan bahwa Koin NU harus bertransformasi menjadi kekuatan filantropi yang profesional. Menurutnya, PWNU Jatim kini tengah mendorong standarisasi menyeluruh, mulai dari metode pengumpulan, pelaporan, hingga pola pentasyarufan (distribusi).
“Prinsip Koin NU adalah dari umat untuk umat. Agar dampaknya lebih terasa, kita perlu standarisasi. Penguatan ini juga membutuhkan dukungan dari jajaran Rois Suriyah dan Ketua PCNU sebagai brand ambassador, sebagaimana yang telah sukses dipraktikkan di Sragen, Cilacap, maupun Kabupaten Malang,” ujar Rofi’i dalam pengarahannya.
Optimisme senada disampaikan oleh Beni Sayogo. Ia memproyeksikan, jika dikelola dengan baik, satu ranting (tingkat desa) mampu menghimpun Rp3 juta hingga Rp5 juta per bulan melalui penyebaran 750 hingga 1.000 kaleng koin. “Gerakan ini, jika dijalankan dengan konsisten, akan menjadi instrumen efektif dalam menekan angka kemiskinan di daerah masing-masing,” kata Beni.
Di sisi lain, penguatan instrumen pengumpulan koin harus dibarengi dengan manajemen operasional yang matang. Ketua LAZISNU PCNU Bojonegoro, Eko, menekankan pentingnya Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) sebagai kompas organisasi. Sementara Sekretaris LAZISNU PCNU Babat, Wasian, menyoroti aspek kepatuhan struktur di tingkat bawah sebagai kunci soliditas kelembagaan.
Menutup diskusi, Ketua LAZISNU PCNU Tuban, Joko Hadi Purnomo, mengingatkan kembali hakikat LAZISNU sebagai lembaga amil. Ia menekankan bahwa meski gerakan koin menjadi primadona, identitas sebagai pengelola zakat tidak boleh terpinggirkan.
“Kita harus mencermati bahwa LAZISNU adalah amil. Tugas utamanya adalah penghimpunan zakat. Karena itu, tugas sosialisasi dan pengumpulan zakat harus tetap berjalan beriringan dengan aktivitas koinisasi sebagai bagian dari tugas amil di bawah bendera NU,” tegas Joko Hadi Purnomo.
Proyek percontohan di Klaster Pantura ini diharapkan menjadi cetak biru bagi pengelolaan koinisasi di daerah lain di Jawa Timur, guna memastikan kedaulatan ekonomi umat tidak lagi sekadar jargon, melainkan realitas yang terukur.





