Hardiknas 2026: Reaktualisasi Trilogi Belajar, Berjuang, Bertakwa sebagai Akar Sikap Masa Kini
Tuban, PCNU Online
Memasuki tahun 2026, wajah pendidikan kian terjebak dalam arus pragmatisme digital. Pelajar kini lebih akrab dengan tatanan algoritma daripada aturan etika, dan lebih mengejar validasi ketimbang substansi ilmu. Fenomena “Kabur Aja Dulu” yang sempat booming seringkali menggambarkan pelajar masa kini lalai akar perjuangan nyata di masyarakat. Pendidikan hanya dipandang sebagai simbol seorang pernah mengenyam meja akademisi, bukan proses memanusiakan manusia sebagai figur mabadi’ khaira ummah. Inilah tantangan besar bagi kader IPNU IPPNU di era Post-Truth, yang perlu segera dijawab bersama.
Momentum Hardiknas 2026 menjadi cermin bagi kita untuk menilik kembali trilogi belajar, berjuang, bertakwa dalam bingkai IPNU IPPNU, Jihad masa kini bukan lagi soal fisik, melainkan jihad intelektual dan moral. Sebagaimana prinsip mabadi’ khaira ummah (prinsip pembentukan umat terbaik), dalam implementasi ideologi Pelajar NU, “belajar, berjuang, bertakwa” sebagai figur Pelajar NU perlu kiranya kembali digagas secara massif untuk terbentuknya kader figur IPNU IPPNU yang dapat memberikan manfaat bagi sekitar seperti bait hadis “khoirunnas anfa’uhum linnas”. Sikap trilogi “belajar, berjuang, bertakwa” sering tergerus oleh era digital, komersialisasi, dan kaderisasi seremonial, sehingga perlu reaktualisasi di organisasi.
Sikap Belajar. Menurunnya produktivitas pelajar baik dari segi kehadiran maupun menyuarakan narasi gagasan kini mengalami kemerosotan, menyebabkan penurunan literasi dan pemahaman akan nilai aswaja dalam identitas kader. Seperti budaya scroll, lemahnya minat membaca, ataupun kegiatan terkait literasi. Untuk menjawab hal ini maka perlu adanya transformasi sikap belajar dan yang awalnya budaya konsumtif ke arah literasi kreatif, mulai dari pemanfaatan AI dengan bijak, edukasi dakwah milenial secara masif ke kader-kader, guna membumikan kembali kebiasaan belajar yang positif.
Sikap Berjuang. Menghadapi arus pragmatisme dan individualisme di kalangan Gen Z dan Alpha dalam organisasi seperti IPNU IPPNU memerlukan pergeseran paradigma. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan narasi “pengabdian ikhlas” tanpa menyentuh kebutuhan aktual mereka terhadap pengembangan diri dan karier. IPNU IPPNU harus menjadi organisasi yang tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa kamu berikan untuk NU?” tetapi juga menjawab, “Inilah yang bisa NU berikan untuk masa depanmu.
Sikap Bertakwa. Maraknya bullying serta gaya hidup instan, menimbulkan krisis kualitas kader dan hilangnya jati diri Islami, selain itu kurangnya partisipasi dalam kegiatan keagamaan. Anggota muda cenderung menghindari atau enggan terlibat dalam rapat atau aktivitas yang melibatkan doa bersama atau pembinaan mental-spiritual.
Padahal hal penting dari organisasi islami seperti IPNU-IPPNU ialah realisasi nilai islami dalam organisasi, seperti doa bersama ataupun yang lainnya. Sebait dalil “Doa adalah senjata orang mukmin, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi” (HR. Abu Ya’la). Menjadi kader NU berarti memadukan antara “kesalehan organik” (kerja nyata) dan “kesalehan ritual” (doa). Kita tidak ingin melahirkan kader yang hanya pandai berdebat tetapi kering jiwanya, atau kader yang hanya berdoa tetapi diam dalam berpangku tangan.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. Reaktualisasi ini bertujuan mencetak figur pelajar NU yang tidak hanya “ikut arus” (followers), tetapi menjadi pelopor yang memanusiakan manusia. Dengan menyatukan kecakapan digital, orientasi karier yang jelas, dan kedalaman spiritual, IPNU-IPPNU akan tetap relevan sebagai kawah candradimuka bagi terbentuknya kader yang khoirunnas anfa’uhum linnas di masa depan. Dengan belajar yang tekun, berjuang yang ikhlas, dan bertakwa yang konsisten, kita adalah garda terdepan dalam menjaga nalar sehat bangsa.
Salam Belajar, Berjuang, Bertakwa!
Penulis: Muhammad Syahrul Muharram, Ketua PAC IPNU Senori.





