BeritaMWCNUNu NewsWARTA

Ngopi Kader PCNU Tuban: Kader Tak Sekadar Punya Sertifikat, Tapi Aktif Bergerak

Tuban, PCNU Online
Konsolidasi kader terus digenjot Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tuban. Melalui program Ngopi Kader, Tim Optimalisasi Kader PCNU Tuban kembali menyambangi struktur Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU). Kali ini, giliran MWCNU Plumpang dan MWCNU Widang yang menjadi lokasi konsolidasi.

Kegiatan berlangsung Selasa (29/9) siang di Kantor MWCNU Plumpang. Forum tersebut menjadi ruang untuk memotret kondisi kader di tingkat bawah sekaligus mencari pola agar kader yang telah mengikuti proses pengkaderan benar-benar memiliki ruang untuk mengabdi.

Rois Syuriah PCNU Tuban Dr. KH. Ahsan Ghozali, MA. mengatakan, jumlah kader NU di Tuban sebenarnya sangat besar. Lebih dari 2.000 kader telah mengikuti berbagai proses pengkaderan. Tantangannya kini bukan sekadar menambah jumlah, melainkan bagaimana potensi tersebut dioptimalkan.

“Tim optimalisasi akan membersamai MWC se-Kabupaten Tuban. Kader kita banyak, lebih dari 2.000. Ini harus dioptimalkan dan didorong agar berperan aktif mewujudkan organisasi yang ideal,” ujar Ahsan.

Persoalan data menjadi salah satu pembahasan utama. Ketua MWCNU Plumpang K. Muhtarom menyampaikan, pihaknya memiliki sekitar 155 kader. Namun, validasi data masih terus dilakukan. Dari data yang ada, baru 59 kader yang telah memiliki salinan sertifikat sebagai bukti pengkaderan.

Menurut dia, validasi penting agar data kader tidak berhenti sebagai angka. Database yang valid dibutuhkan untuk melakukan kompilasi, pemetaan, sekaligus menentukan kader yang bisa didorong untuk mengambil peran lebih besar dalam organisasi.

Persoalan lain muncul dari MWCNU Widang. Ketua MWCNU Widang K. Mufid menyebut, sebagian alumni PD-PKPNU belum menunjukkan aktivitas organisasi secara optimal. Bahkan, terdapat kader yang belum mengikuti PKPNU tetapi justru lebih aktif dalam kegiatan NU.

“Ini perlu menjadi koreksi. Banyak yang sudah ikut PKPNU tetapi belum giat. Ada yang belum PKPNU justru lebih aktif di organisasi,” tuturnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kaderisasi tidak selesai ketika seorang kader mendapatkan sertifikat. Setelah proses pendidikan kader, masih diperlukan ruang pengabdian, pendampingan, dan penugasan yang membuat kader tetap terhubung dengan organisasi.

Ketua PCNU Tuban KH. Ahmad Damanhuri, S.Pd.I. menyebut persoalan kader tersebut sebagai pekerjaan rumah bersama. Salah satu yang perlu segera dilakukan adalah membuat alur yang jelas bagi kader yang telah mengikuti proses pengkaderan namun belum mendapatkan sertifikat.

Selain itu, beliau mendorong adanya forum rutin kader. Kader yang sudah ada harus dimanfaatkan untuk membantu kegiatan struktur, baik di tingkat MWC maupun ranting.

“Manfaatkan kader yang ada untuk membantu kegiatan struktur, baik di MWC maupun ranting. Salah satunya membantu ranting agar terwujud Ranting Ideal. Menguatkan ranting dimulai dari menguatkan kader,” tegasnya.

Konsolidasi pun diarahkan tidak berhenti pada forum diskusi. Setelah Ngopi Kader, MWC diharapkan bergerak melakukan pemetaan, menghidupkan kader, dan memberi ruang pengabdian.

Sebab, bagi PCNU Tuban, tantangan kaderisasi hari ini bukan lagi semata-mata berapa banyak kader yang sudah mengikuti pendidikan, tetapi berapa banyak kader yang benar-benar hadir, bergerak, dan memberi manfaat bagi organisasi serta masyarakat. Intaha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button