Tuban, PCNU Tuban
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) berbasis Asset-Based Community Development (ABCD) dari Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban menjadikan kegiatan Rutinan Selapanan Ahad Kliwon Edisi ke-32 sebagai momentum strategis untuk memetakan modal sosial masyarakat. Acara yang diinisiasi oleh RELMAS (Relawan Masjid) Nurul Huda Boto ini digelar pada Ahad, (12/07/2026), bertempat di Masjid Nurul Huda, Desa Boto, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban.
Kehadiran ratusan jamaah dari berbagai kalangan dalam rutinan yang digelar setiap 35 hari sekali ini membuktikan tingginya social capital (modal sosial) dan Ukhuwah Islamiyah yang dimiliki oleh warga setempat. Rangkaian acara diawali dengan lantunan shalawat dari Grup Hadroh Mardhotillah, sebuah aset kesenian lokal yang sukses membangun suasana religius dan kekhusyukan jamaah sebelum acara inti.
Tingginya kekuatan komunitas Desa Boto juga tercermin dari hadirnya para tokoh penggerak lokal. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Desa Boto Handoko Mulyo Utomo, Penasehat Masjid H. Nafi’udin, Ketua Takmir Syamsul Hadi, S.Ag., serta jajaran kelompok masyarakat seperti Jamaah Tahlil Putra dan Muslimat Fatayat.
Dalam tausiyahnya, penceramah KH. Shulkan dari Merakurak mengajak seluruh jamaah untuk terus memakmurkan masjid dan mempererat tali persaudaraan. Beliau menekankan bahwa majelis ilmu merupakan sarana meningkatkan kualitas iman dan akhlak, sekaligus ikhtiar nyata dalam menjaga keharmonisan masyarakat. Pesan ini sejalan dengan prinsip ABCD, di mana masjid berperan sebagai institusi jangkar (anchor institution) penyatupadu warga.
Kemandirian dan kepedulian sosial masyarakat juga terwujud dalam pemanfaatan aset finansial umat. Dalam kegiatan tersebut, dilakukan penyaluran santunan secara konsisten kepada sekitar 10 anak yatim dan 6 kaum duafa.
“Alhamdulillah, setiap selapan kami rutin mengadakan pengajian sekaligus memberikan santunan kepada anak yatim dan kaum duafa. Semoga kegiatan ini terus istiqamah, membawa keberkahan, dan semakin mempererat kebersamaan masyarakat Desa Boto,” tutur salah seorang anggota Muslimat Desa Boto.
Bagi mahasiswa KKN ABCD IAINU Tuban, keterlibatan dalam tradisi selapanan ini bukan sebatas partisipasi pasif, melainkan proses identifikasi dan pemetaan aset (asset mapping) secara langsung. Mahasiswa menemukan bahwa Masjid Nurul Huda tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi telah menjelma menjadi pusat pembinaan umat, pendidikan keagamaan, dan pendorong aksi sosial kemasyarakatan yang mandiri.
Sambutan hangat warga membuka jalan bagi sinergi yang lebih luas. Ke depannya, semangat kebersamaan, nilai gotong royong, dan kepedulian sosial yang telah mengakar kuat di Desa Boto ini akan dijadikan fondasi utama oleh mahasiswa KKN IAINU Tuban dalam merancang program kolaborasi berkelanjutan. Dengan pendekatan ABCD, masyarakat Desa Boto didorong untuk terus menjadi aktor utama dalam pembangunan dan kemajuan desa mereka sendiri berdasarkan potensi yang mereka miliki.
Penulis: Kinanti Tasya, Mahasiswi KKN IAINU Tuban 05 Boto Semanding.





