Kajian Rutin LDNU PCNU Tuban: Menanamkan Hikmah dari Kitab Mukhtarul Aḥadits
Tuban, PCNU Online
Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PCNU Tuban secara istiqamah menggelar Kajian Rutin Kitab Mukhtarul Aḥadits bersama Ustadz Sholih Ilham. Kajian ini menjadi media dakwah yang menghadirkan nilai-nilai Islam yang mudah dipahami sekaligus relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Salah satu hadis yang dikaji berbunyi:
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ: اثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ: الْمَوْتُ وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنَ الْفِتْنَةِ، وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ
Artinya: Ada dua perkara yang dibenci oleh anak Adam: kematian, padahal kematian itu lebih baik bagi seorang mukmin daripada fitnah (ujian yang menyesatkan), dan anak Adam membenci sedikitnya harta (kemiskinan), padahal sedikitnya harta itu lebih sedikit hisabnya.” (HR. Ahmad).
Hadis ini mengajarkan bahwa penilaian manusia sering kali berbeda dengan penilaian Allah SWT. Apa yang tampak tidak menyenangkan menurut pandangan dunia belum tentu buruk menurut pandangan agama.
Manusia Secara Naluriah Membenci Kematian
Setiap manusia memiliki naluri untuk mempertahankan hidup. Oleh sebab itu, rasa takut terhadap kematian merupakan sesuatu yang wajar. Namun Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh memandang kematian sebagai akhir segalanya.
Allah SWT berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Ayat ini menegaskan bahwa kematian adalah kepastian yang tidak dapat dihindari siapa pun. Yang membedakan manusia hanyalah bagaimana ia mempersiapkan bekal sebelum ajal menjemput.
Mengapa Kematian Bisa Lebih Baik daripada Fitnah?
Dalam hadis tersebut Rasulullah SAW menyebutkan bahwa bagi seorang mukmin, kematian bisa lebih baik daripada fitnah.
Yang dimaksud fitnah di sini bukan sekadar tuduhan, tetapi segala bentuk ujian yang dapat menyeret seseorang kepada kekafiran, kemaksiatan, kesesatan, atau rusaknya agama.
Rasulullah SAW pernah berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika seseorang meninggal dalam keadaan beriman, maka ia telah terjaga dari kemungkinan tergelincir kepada kemaksiatan yang dapat merusak akhir hidupnya.
Karena itulah sebagian ulama mengatakan bahwa husnul khatimah merupakan nikmat yang jauh lebih besar daripada panjang umur tanpa ketaatan.
Al-Qur’an Mengingatkan Bahaya Fitnah
Allah SWT berfirman:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً
“Takutlah kalian terhadap fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian.” (QS. Al-Anfal: 25)
Fitnah dapat menimpa siapa saja apabila manusia lalai menjaga iman.
Di zaman modern, fitnah hadir dalam berbagai bentuk:
- Syubhat yang merusak akidah.
- Syahwat yang menggelincirkan kepada maksiat.
- Kesombongan akibat jabatan.
- Cinta dunia yang berlebihan.
- Informasi palsu yang memecah persatuan umat.
Karena itu seorang mukmin harus senantiasa memohon perlindungan kepada Allah agar diwafatkan dalam keadaan membawa iman.
Mengapa Manusia Membenci Kemiskinan?
Bagian kedua hadis menjelaskan bahwa manusia juga membenci sedikitnya harta.
Memang kebutuhan hidup membuat seseorang ingin memiliki kekayaan. Islam tidak melarang menjadi kaya, bahkan banyak sahabat Rasulullah SAW yang kaya raya.
Namun Rasulullah SAW mengingatkan bahwa semakin banyak harta, semakin besar pula pertanggungjawabannya.
Beliau bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ… وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang hartanya: dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan.” (HR. Tirmidzi)
Harta bukan hanya nikmat, tetapi juga amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Sedikit Harta, Sedikit Pula Hisabnya
Inilah hikmah yang sering dilupakan manusia.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sedikit harta berarti lebih ringan hisabnya.
Allah SWT berfirman:
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian kalian pasti akan ditanya pada hari itu tentang segala nikmat.” (QS. At-Takatsur: 8)
Semakin besar nikmat yang Allah berikan, semakin rinci pula pertanggungjawabannya.
Karena itu para ulama salaf sangat berhati-hati terhadap urusan dunia.
Qaul Ulama tentang Dunia dan Akhirat
Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata:
الدنيا مزرعة الآخرة
”Dunia adalah ladang untuk kehidupan akhirat.”
Artinya, dunia bukan tujuan utama, tetapi tempat menanam amal yang akan dipanen di akhirat.
Imam Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata:
ليس الزهد بتحريم الحلال ولكن الزهد أن يكون ما عند الله أوثق عندك مما في يدك
“Zuhud bukan berarti mengharamkan yang halal, tetapi lebih percaya kepada apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tanganmu.”
Seseorang boleh memiliki harta, namun jangan sampai harta menguasai hatinya.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata:
الدنيا دار ممر والآخرة دار مقر
“Dunia adalah tempat singgah, sedangkan akhirat adalah tempat tinggal yang sebenarnya.”
Ungkapan ini mengingatkan bahwa segala kenikmatan dunia bersifat sementara.
Kekayaan Sejati Adalah Hati yang Qana’ah
Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seseorang yang memiliki qana’ah akan merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan sehingga hidupnya lebih tenang.
Sebaliknya, orang yang selalu mengejar dunia tanpa batas akan terus merasa kurang meskipun hartanya melimpah.
Pelajaran bagi Umat Islam Masa Kini
Hadis Rasulullah SAW ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Banyak orang bekerja keras mengejar kekayaan, jabatan, dan popularitas, namun lupa mempersiapkan bekal akhirat.
Sebaliknya, ada pula yang terlalu takut menghadapi kematian hingga lalai memperbanyak amal saleh.
Padahal seorang mukmin hendaknya memiliki keseimbangan antara ikhtiar dunia dan orientasi akhirat.
Islam mengajarkan agar kita:
- Memperbanyak amal sebelum ajal datang.
- Menjaga iman dari berbagai fitnah zaman.
- Mencari rezeki yang halal dan berkah.
- Tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup.
- Bersyukur atas setiap nikmat yang Allah berikan.
- Memperbanyak sedekah agar harta menjadi sebab keselamatan.
Hikmah Kajian LDNU Tuban
Melalui Kajian Rutin LDNU PCNU Tuban bersama Ustadz Sholih Ilham, umat diajak memahami bahwa ukuran kebahagiaan menurut Islam berbeda dengan ukuran dunia.
Kematian bukan sesuatu yang harus ditakuti secara berlebihan apabila seseorang telah mempersiapkan bekal amal saleh.
Kemiskinan pun bukan aib selama tetap menjaga kehormatan, kesabaran, dan keimanan.
Sebaliknya, fitnah agama serta harta yang melalaikan justru dapat menjadi sebab kerugian yang besar apabila tidak disikapi dengan benar.
Penutup
Hadis Rasulullah SAW dalam Kitab Mukhtārul Aḥādīts mengajarkan perspektif kehidupan yang sangat mendalam. Manusia secara naluriah membenci kematian dan kemiskinan, tetapi Allah SWT memiliki hikmah yang jauh lebih luas daripada apa yang dipahami manusia.
Kematian bagi seorang mukmin yang istiqamah dapat menjadi pintu menuju rahmat Allah dan terhindar dari fitnah yang merusak agama. Demikian pula, sedikit harta bukanlah kehinaan, bahkan dapat menjadi sebab ringannya hisab pada Hari Kiamat.
Semoga melalui Kajian Rutin LDNU PCNU Tuban, kita semakin mencintai ilmu, memperkokoh akidah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, memperbanyak amal saleh, serta mempersiapkan bekal terbaik menuju kehidupan akhirat. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita semua husnul khatimah, keberkahan rezeki yang halal, hati yang qana’ah, dan keselamatan dari segala fitnah dunia maupun akhirat. Amin ya Rabbal ‘Alamin.





