ArtikelHukum IbadahKEISLAMANRAMADHAN

Kebelet di Pertengahan Salat Tarawih

Tuban, PCNU Online
Ada kalanya dorongan buang air kecil/besar datang di waktu yang tidak tepat. Entah di saat sedang terjebak di kemacetan atau sedang ada di lokasi yang sangat jauh dari toilet, atau bahkan ketika berada di pertengahan salat sekalipun.

Satu-satunya pilihan yang dapat dilakukan adalah menahan. Namun demikian, menahan buang air di waktu salat tentu dapat berdampak pada ketidakkhusyu’an kita dalam salat.

Oleh karenanya, mengetahui hukum menahan buang air, termasuk menahan kentut saat salat akan menjadi sangat penting untuk diketahui, sebab akan berkaitan erat dengan sempurna-tidaknya salat yang kita lakukan.

Adapun persoalan tentang menahan buang air atau kentut saat salat sendiri, sering kali kita jumpai bahkan pada waktu jamaah salat Tarawih di malam ramadan. Pasalnya, salat Tarawih yang dilaksanakan selepas salat isya tersebut memiliki jumlah rakaat yang terhitung banyak, sedangkan di sisi lain, hampir sebagian besar jamaahnya dalam kondisi perut terisi pasca berbuka puasa. Alhasil, akan sangat mungkin kemudian timbul rasa ingin kebelet di saat pertengahan salat.

Berdasarkan pendapat Jumhur Ulama, hukum menahan buang air atau kentut saat sedang salat adalah makruh, sebab akan membuat seseorang tidak bisa fokus saat menunaikan salat. Hal ini didasarkan pada salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

“Tidak ada salat (tidak sempurna salat) di hadapan makanan, begitu juga tidak ada salat (tidak sempurna salat) sedang ia menahan air kencing dan air besar (al-akhbatsaani).”

Dari penjelasan hadis tersebut, jelas bahwa hukum menahan buang air atau kentut saat salat adalah makruh. Makruh berarti sesuatu yang tidak disukai Allah SWT, sehingga lebih disarankan untuk meninggalkannya saja. Kendati demikian, para ulama setidaknya tetap memberikan dua pilihan.

Pertama, jika waktu salatnya masih lama dan memungkinkan untuk mengulang salatnya, maka lebih utama untuk membatalkan salat dan membuang hajatnya terlebih dahulu.

Kedua, namun jika waktu salatnya sudah hampir berakhir, sekiranya sudah tidak cukup waktunya untuk mengulangi salat lagi, maka orang yang menahan buang air atau kentut tersebut disarankan untuk tetap melanjutkan salatnya sebisa mungkin. Demikian keterangan yang disampaikan Imam an-Nawawi dalam Kitab al-Minhaj Syarh Muslim bin al-Hajjaj Juz 5 halaman 46.

Sedangkan dalam salat Tarawih itu sendiri, apabila kita memilih untuk menuntaskan hajat kita terlebih dahulu, maka otomatis kita akan terancam tertinggal beberapa rakaat dengan imam. Dan meskipun Tarawih merupakan sebatas salat sunah, tetapi tetap tidak bisa dikatakan Tarawih jika tidak genap rakaat yang kita lakukan.

Menyikapi hal demikian, maka Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin memberikan jawaban bahwa hendaknya seseorang tersebut menggenapkan rakaat Tarawih yang tertinggal, sebab menuntaskan hajat. Dengan cara meng-qada sejumlah rakaat yang tertinggal, baik itu dilakukan sebelum Witir maupun setelah Witir. Adapun anjuran untuk meng-qada salat Tarawih ini pun dijelaskan dalam Kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyyyah al-Kuwaitiyyah. Hukum meng-qada salat Tarawih yang demikian ini juga berlaku bagi makmum masbuk—makmum yang tertinggal—tidak mendapati rakaat awal Tarawih bersama imam. Waallahu A’lam.

Penulis: Yayuk Siti Khotjah (Duta Santri Nasional 2021)
Editor: Ahmad Atho’illah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button