Menelusuri Penyakit Hati dan Obatnya – Khutbah Jumat
Tuban, PCNU Online
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, taufiq, serta hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga pada siang hari yang penuh barokah ini, kita dapat berkumpul di dalam baitullah ini untuk menunaikan kewajiban Shalat Jumat.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman. Khutbah Naskah kali ini akan mengangkat tema tentang pentingnya menjaga kesucian hati (Tazkiyatun Nafs) sebagai landasan utama dalam beragama, terutama di tengah gempuran fitnah akhir zaman yang semakin kompleks.
KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah. Marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar taqwa, yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Taqwa adalah bekal terbaik bagi setiap mukmin untuk mengarungi kehidupan dunia yang fana menuju akhirat yang kekal abadi.
Salah satu dimensi taqwa yang sering terlupakan namun menjadi inti dari keberagamaan kita adalah menjaga kondisi hati. Dalam khutbah singkat ini, khatib ingin mengingatkan diri sendiri dan jamaah sekalian tentang urgensi memelihara hati dari berbagai penyakit yang dapat merusak amal ibadah kita.
Hati adalah pusat kendali manusia. Jika jantung baik, maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika jantung rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Allah SWT berfirman bahwa pada hari kiamat nanti, harta dan anak-anak tidak akan berguna kecuali bagi mereka yang menghadap Allah dengan hati yang selamat (Qalbun Salim). Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Ash-Shu’ara ayat 88-89:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
Artinya: “(Yaitu) pada hari di mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (selamat).” Ayat ini memberikan penegasan kepada kita bahwa investasi terbesar seorang mukmin bukanlah pada materi yang tampak, melainkan pada kebersihan batiniahnya. Qalbun Salim adalah hati yang terbebas dari syirik, keraguan, kebencian, iri hati (hasad), dan kesombongan (kibr).
Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah. Rasulullah SAW dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim juga menekankan posisi sentral hati dalam struktur moral manusia. Beliau bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya: “Ketahuilah bahwa di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad itu. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad itu. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.”
Hadits ini mengajarkan kita bahwa perubahan perilaku lahiriah harus dimulai dari perubahan batiniah. Seseorang tidak akan bisa istiqamah dalam shalat, jujur dalam berdagang, atau santun dalam bertutur kata jika hatinya masih dipenuhi oleh kekeruhan nafsu ammarah. Hati adalah ‘raja’ bagi anggota tubuh lainnya. Jika rajanya bijaksana dan suci, maka ‘rakyatnya’ (tangan, kaki, mata, lisan) akan tunduk pada syariat Allah.
Dalam perspektif ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya dalam disiplin ilmu tasawuf, menjaga hati adalah perjuangan seumur hidup (mujahadah). Imam Al-Ghazali dalam kitab monumental beliau, Ihya’ Ulumuddin, memberikan perumamaan yang sangat indah mengenai hati. Beliau berkata:
Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan يُغَطِّيْهَا
Artinya: “Hati itu mengibarat cermin, sedangkan kemaksiatan dan dosa adalah laksana asap dan karat yang menutupinya.” Penjelasan Imam Al-Ghazali ini menyiratkan bahwa setiap dosa yang kita lakukan, baik kecil maupun besar, akan meninggalkan noda hitam pada cermin hati. Jika noda tersebut dibiarkan tanpa bertaubat dan beristighfar, maka hati akan menjadi gelap gulata, sehingga tidak mampu lagi memantulkan cahaya kebenaran (nurul haq). Orang yang hatinya sudah tertutup noda (rân) akan sulit menerima nasihat, cenderung menyukai kemaksiatan, dan merasa berat untuk melakukan ketaatan.”
Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali juga membagi penyakit hati menjadi beberapa jenis yang paling berbahaya, di antaranya adalah Hasad (iri hati), Riya’ (pamer), dan Ujub (bangga diri). Hasad adalah sikap tidak senang melihat orang lain mendapatkan kenikmatan dan berharap kenikmatan tersebut hilang dari orang tersebut. Penyakit ini sangat berbahaya karena Rasulullah SAW bersabda bahwa hasad dapat memakan pahala kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.
Riya’ adalah melakukan ibadah untuk mendapatkan pujian manusia, yang mana ini termasuk syirik kecil (ashgar) yang dapat membatalkan pahala amal. Sedangkan Ujub adalah merasa kagum pada dirinya sendiri seolah-olah semua keberhasilan adalah karena kehebatannya sendiri tanpa campur tangan Allah.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah. Di era modern ini, penyakit hati tersebut seringkali teramplifikasi melalui teknologi dan media sosial. Kita sering terjebak dalam persaingan duniawi, pemaknaan pencapaian (riya’), merasa lebih baik dari orang lain (ujub), atau bahkan merasa dengki melihat postingan kebahagiaan orang lain (hasad). Oleh karena itu, nasehat para ulama salafus shalih sangat relevan untuk kita renungkan.
Cara mengobati hati adalah dengan lima hal sebagaimana yang sering kita dengar dalam syi’ir ‘Tombo Ati’: membaca Al-Qur’an dengan maknanya, melakukan shalat malam (tahajjud), berkumpul dengan orang-orang shalih, memperbanyak puasa, dan memperlama dzikir malam hari.
Selain itu, kita juga harus selalu memohon kepada Allah agar dikaruniai ketetapan hati dalam ketaatan. Doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW adalah: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu). Semoga kita semua termasuk hamba-hamba Allah yang senantiasa menjaga kebersihan hati, sehingga kelak kita menghadap Allah dalam keadaan Qalbun Salim. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بَلْدَتَنَا هَذِهِ بَلْدَةً طَيِّبَةً، آمِنَةً، مُطْمَئِنَّةً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ. وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Sumber: www.ldnucabangtuban.com





