Oleh: KH Ahmad Damanhuri
Ketua Tanfidziyah PCNU Tuban
Tuban, PCNU Online
Mungkin, salah satu hal yang selama ini kita rasakan dalam kinerja organisasi NU adalah kecenderungan para pengurus untuk bergerak sendiri-sendiri dan secara parsial. Dalam merumuskan maupun merealisasikan program kerja, masing-masing kerap kali lebih bersemangat dengan kepentingan sektoralnya. Akibatnya, konsolidasi dan koordinasi sulit diwujudkan, padahal keduanya merupakan kunci untuk mencapai hasil yang lebih maksimal serta selaras dengan visi dan misi besar jamiyah.
Dengan dibentuknya Tim Optimalisasi Kader (dan Pengurus) NU di tingkat Ranting, MWCNU, dan Cabang, banyak pihak berharap akan terjadi perubahan signifikan dalam paradigma berpikir dan etos khidmat kolektif. Tim gabungan ini diharapkan mampu memadukan perbedaan karakter antar pengurus, mendekatkan beragam pemikiran, menyelaraskan titik masuk (entry point) dalam tata kelola jamiyah, mewujudkan tertib administrasi, serta menumbuhkembangkan kepekaan sosial di akar rumput. Selain itu, tim ini diharapkan mampu menawarkan konsep yang integral dan representatif, memberikan solusi atas berbagai persoalan jamiyah dan jamaah, hingga menghadirkan analisis makro dalam satu kerangka kinerja yang teratur dan sistematis.
Sejak pertengahan bulan lalu, tepatnya 16 September 2026, Tim Optimalisasi dari PCNU setiap hari Selasa telah melakukan sosialisasi ke MWCNU. Melalui kegiatan ini, tim bersilaturrahim, menyapa, memberikan support, mendampingi, serta terlibat langsung dalam tugas yang semestinya menjadi salah satu program utama pengurus NU, yakni merumuskan model tata kelola organisasi secara bottom-up atau dari bawah.
Agenda utamanya adalah menggeliatkan peran kader dan pengurus NU di tingkat akar rumput (grass root), khususnya Ranting dan MWCNU. Kegiatan dikemas dalam suasana semi-formal agar berlangsung lebih hidup, dialogis, efektif dari segi waktu, serta mampu menyampaikan pesan-pesan secara lebih optimal. Kegiatan ini diberi nama Ngopi Kader dan dihadiri oleh Tim Optimalisasi bentukan PCNU. Tim tersebut terdiri atas unsur Pengurus Harian (PH PCNU), instruktur kaderisasi formal, beberapa lembaga PCNU Tuban, serta sejumlah Badan Otonom (Banom) NU.
Dalam acara lesehan sambil menikmati kopi ini, MWCNU diminta mengundang peserta dengan jumlah minimal setara dengan komposisi Tim Optimalisasi. Peserta yang diundang meliputi ketua kelas dari masing-masing angkatan PKPNU/PD-PKPNU yang telah diselenggarakan oleh MWCNU, ditambah dua atau tiga Pengurus Ranting NU (PRNU) yang akan diajukan untuk mendapatkan pendampingan dan pembinaan menuju Ranting Ideal. Namun, karena antusiasme yang tinggi, banyak MWCNU mengundang peserta dalam jumlah lebih besar dengan latar belakang yang lebih beragam.
Dalam kegiatan tersebut, selain menerima laporan dan memberikan apresiasi atas geliat kegiatan serta khidmat yang telah dan terus dilakukan pengurus NU di semua tingkatan, tim PCNU juga meminta masukan untuk menyusun Tim Optimalisasi di tingkat MWCNU dan Ranting. Tim turut menyampaikan konsep dan langkah-langkah mendasar yang akan ditindaklanjuti bersama.
Meskipun agenda kegiatan masih bersifat tentatif, acara dirancang dengan meminimalkan seremoni. Setelah pengarahan singkat dari tim mengenai maksud dan tujuan pertemuan, kegiatan langsung dilanjutkan dengan diskusi. Forum ini menjadi ruang untuk menerima usulan, bahkan kritik, demi meningkatkan kinerja dan membenahi sistem tata kelola organisasi agar berbasis data riil. Jika Tim Optimalisasi mampu bekerja secara konsisten dan merealisasikan rencana tindak lanjut (RTL), insyaallah tim ini telah memulai langkah besar yang sangat bermanfaat bagi masa depan jamiyah.
Dalam paparannya, tim menjelaskan bahwa program ini diawali dengan membentuk pilot project atau role model, atau demplot, atau percontohan berupa Ranting Ideal. Pelaksanaannya berpedoman pada sebuah buku saku berjudul Menjadi Ranting NU Ideal. Setelah model Ranting Ideal terwujud, ranting-ranting lainnya dipersiapkan untuk mereplikasi model tersebut secara berkelanjutan. Tim juga melengkapi data dan memetakan potensi kader, baik kader struktural maupun fungsional, kemudian mengajak mereka untuk semakin aktif berkiprah dalam khidmat keumatan.
Apa yang dilakukan Tim Optimalisasi ini merupakan upaya menyiapkan “lahan organisasi” yang matang di tingkat bawah melalui penumbuhan kesadaran akan pentingnya manajemen yang baik. Instrumen utamanya adalah pemetaan potensi organisasi dan digitalisasi berbasis basis data (database). Dalam hal ini, terdapat empat database aset utama NU. Langkah tersebut ditempuh agar pengurus Ranting tidak lagi meraba-raba dalam menyusun program kerja, melainkan memiliki pijakan yang tepat, jelas, dan terukur.
Data pertama yang digarap adalah Data Aset Insaniyah atau Data Warga NU. Melalui instrumen ini, profil warga NU dapat dipetakan secara terperinci, mulai dari nama dan alamat (by name, by address), usia, kondisi ekonomi atau tingkat kesejahteraan, profesi atau pekerjaan, hingga potensi dan keahlian yang dimiliki. Data tersebut mencakup warga yang berperan sebagai kader, pengurus, maupun warga NU kultural.
Dengan data ini dan data-data berikutnya, pengurus dapat memahami siapa yang perlu diurus dan apa yang semestinya diurus. Data tersebut juga berguna untuk mengelompokkan kondisi umat sekaligus memetakan kader potensial. Termasuk di dalamnya adalah pemetaan Generasi Z agar Ranting dan MWCNU dapat merancang kegiatan yang tepat untuk merangkul mereka serta memahami keinginan generasi muda. Dengan demikian, mereka dapat merasa at home dengan NU, memahami serta mengamalkan Aswaja dan moderasi beragama dalam konteks era now, sekaligus mempersiapkan diri untuk melanjutkan estafet khidmat dalam organisasi.
Tidak kalah penting adalah mengetahui klasifikasi ranting berdasarkan kondisi geografis dan karakteristik masyarakatnya. Ada ranting yang berada di desa atau kota, di kawasan agraris atau nelayan, di lingkungan masyarakat rural atau industri, di komunitas dengan mobilitas tinggi atau rendah, serta di tengah masyarakat yang masih memiliki ikatan paguyuban kuat maupun yang cenderung individualistis. Kondisi tersebut tentu memengaruhi tata kelola organisasi, pendekatan yang digunakan, serta cara menanamkan nilai-nilai ke-NU-an. Karena itu, ranting yang berada di kawasan desa tentu membutuhkan pendekatan yang bisa berbeda dari ranting di wilayah perkotaan (urban) maupun semiperkotaan (semi-urban).
Data kedua adalah Data Aset Maliyah, yaitu inventarisasi aset fisik, kekayaan, dan fasilitas keagamaan di tingkat basis. Tim mendata secara terperinci keberadaan masjid, musala, sekolah, madrasah, TPQ, madrasah diniyah (madin), dan pondok pesantren, termasuk kondisi serta kegiatan yang berlangsung di dalamnya. Pendataan juga mencakup tanah dan aset wakaf, baik milik NU maupun yayasan atau perseorangan yang berafiliasi dengan NU.
Pendataan aset fisik ini tidak semata-mata berkaitan dengan sertifikasi untuk menjaga dan mengamankan kepemilikan, tetapi juga merupakan upaya mengoptimalkan fungsi aset agar memberikan manfaat yang lebih luas. Infrastruktur tersebut, misalnya, dapat dikembangkan menjadi pusat kegiatan dan gerakan keagamaan, sosial, serta kemasyarakatan; sarana mitigasi bencana; ruang untuk kepedulian lingkungan; pusat inovasi layanan; wadah empati kemanusiaan; hingga tempat musyawarah untuk menangani berbagai persoalan lokal.
Hal ketiga yang masuk dalam radar pemetaan adalah Data Aset Amaliyah. Amaliah warga NU yang sebagian besar telah mentradisi dan membumi merupakan modal sosial yang kuat sekaligus ruang konsolidasi kultural warga Nahdliyin. Modal sosial ini menjadi salah satu kekuatan khas NU dalam menjaga keberlangsungan tradisi keagamaan dan kebersamaan masyarakat.
Berbagai kegiatan keagamaan dan budaya, seperti tahlilan, manakiban, selawatan, istigasah, dibaan, haul, sedekah bumi, nyadran, Lailatul Ijtima’, majelis taklim, berbagai walimah, hingga pengajian kitab, telah menjadi bagian dari kehidupan warga. Kegiatan-kegiatan tersebut diselenggarakan oleh pengurus Ranting, Banom, kiai dan bu nyai, serta ustaz dan ustazah untuk menghidupkan sekaligus memakmurkan berbagai aset Maliyah NU yang tersebar di tengah masyarakat.
Pemetaan ini juga mencakup peringatan hari besar Islam, gerakan santunan yatim dan duafa secara rutin, donasi untuk korban bencana dan kegiatan kemanusiaan, serta upaya menangkap peluang pengembangan ekonomi umat. Berbagai kegiatan amaliah tradisional tersebut selanjutnya dapat dioptimalkan sebagai wadah edukasi publik mengenai akidah, ubudiyah, muamalah, akhlakul karimah, etika, seni, dan peradaban.
Dalam kegiatan-kegiatan tersebut, para pengampu dapat secara arif menyisipkan materi lain yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, seperti kesehatan, keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), toleransi, kerukunan, empati, kepedulian sosial, advokasi, penanganan sampah dan kebersihan lingkungan, tanggap bencana, penguatan nasionalisme dan kebangsaan, hingga sosialisasi program-program pemerintah yang membutuhkan penyampaian informasi secara langsung kepada masyarakat di tingkat akar rumput. (Bersambung)
Editor: Dhahrul Mustaqim





